Renungan Bijak Sosok Yang Muttaqin

Barangkali menjadi seorang yang Muttaqin (bertaqwa) menjadi impian sekaligus tolak ukur kadar keimanan seseorang dalam hidup beragama, menjalankan syariat Islam baik secara vertikal maupun Horizintal.

Lalu, apa sebenarnya makna Taqwa yang sesungguhnya?

Hampir setiap minggu, tepatnya saat menjalankan shalat jumat, khatib senantiasa mengawali khutbah jumat dengan ajakan untuk meningkatkan ketaqwaan.

renungan bijak sosok yang muttaqin

Dari sinilah kemudian banyak umat Islam yang mafhum betul atau sekedar tahu apa itu taqwa.

"Menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya" - Itulah definisi taqwa yang sebetulnya tak perlu saya tuliskan tetapi jari saya begitu lancar untuk mengetik kata kata itu.

Dari sinilah kemudian muncul semacam paradigma yang begitu kental dengan sosok ideal seorang muslim syar'i, yaitu mereka yang senantiasa dekat dengan Masjid dan jauh dari segala bentuk urusan duniawi yang tak ada guna nya lagi menyesatkan.

Tapi benarkah sosok muslim yang syar'i (muttaqin) adalah meraka yang ibadahnya lancar?




# "Suatu saat saya berdecak kagum seraya mengagungkan asma Allah kala melihat seseorang yang begitu alim, menjalan ibadah, menebar kebaikan lewat lisan nya yang mulia, serta sikap dan perilaku nya turut menggambarkan sosok yang muttaqin.

Selain perasaan kagum, rasa segan juga muncul untuk orang-orang semacam ini. Sehingga tidak berlebihan jika saya katakan bahwa dari merekalah makna Islam yang Rahmatan Lil Alamin bisa kita peroleh."

# "Di lain kesempatan saya juga merasa iba melihat satu atau dua orang yang penuh ikhtiar dalam mengajak kepada kebaikan, berupa shalat misalnya, namun dirinya masih sangat jauh dari implementasi nilai-nilai ubudiyah itu.

Kita semua tahu bahwa tujuan tunggal dari shalat adalah amar ma'ruf nahi munkar - mengajak/membawa kepada kebaikan dan mencegah kebatilan. Namun yang menjadi problem saat ini adalah terkikisnya pengejawantahan nilai-nilai spiritual itu dalam praktik keseharian kita."

Dua kondisi ini kiranya bisa menjadi bahan renungan bagi kita bahwa penilaian terhadap sosok muslim yang syar'i (muttaqin) bukan hanya dilihat dari aspek ibadah vertikal semata. Atau bahasa gampangnya orang yang rajin shalatnya pasti orang yang bertaqwa.

Tidak segampang itu dalam menentukan dan memberi label ketaqwaan bagi seorang muslim. Terdapat begitu banyak kondisi dan sudut pandang yang harus kita perhatikan sebelum memberi kesimpulan semacam itu.

Jangan sampai kita terjebak dalam "fanatisme teologi keegoisan", di mana surga menjadi satu-satu nya tujuan kita dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Nya.

Saya tidak bermaksud mengajak anda untuk melupakan surga. Sama sekali tidak. Siapa sih manusia yang tidak menginginkan surga?

Semua umat manusia terkecuali atheis, pasti menginginkan surga sebagai bagian akhir dari proses kehidupan yang abadi.

Lalu apa maksud istilah "fanatisme teologi keegoisan" di atas?

Menjadikan surga sebagai tujuan dalam berbuat baik seperti shalat, sedeqah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Loh, kamu kok kaya liberal toh?

Bukan, bukan. Saya bukan seorang yang liberal atau apapun sebutan untuk seorang muslim yang "nyeleneh" otak dan hati nya. Begini loh, secara fundamental surga dan neraka adalah bentuk reward (hadiah/imbalan) dan punishment (hukuman, ganjaran) yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia di muka bumi ini.

Jika dalam dunia kerja ada reward and punishment yang diberikan bos kepada karyawannya, apakah karyawan-karyawan di kantor itu akan bekerja dengan baik dan ulet hanya karena berharap mendapat reward serta tidak terkena punishment?

Jika masih ada karyawan yang orientasi kerjanya karena  reward serta terhindar dari punishment, saya kira karyawan macam itulah yang harus segera di reduksi (PHK) agar tidak menghambat produktivitas serta memberikan efisiensi dan efektivitas bagi kantor yang bersangkutan. Setuju?

Nah jika setuju maka selamat sekarang kita sama-sama paham bahwa untuk mencapai derajat taqwa (produktivitas dalam beragama), maka orientasi kita bukan pada reward (surga) maupun punishment (neraka) melainkan pada Keridhaan Allah.




"Keridhaan Allah", inilah orientasi hakiki seorang muslim yang muttaqin yang selama ini sering dilupakan.

Padahal, dalam rumusan teologi Islam, seorang yang bertaqwa setidaknya akan melewati tiga fase yang mana "ridha" merupakan fase terakhir yangs seharusnya menjadi orientasi setiap muslim. Apa saja fase-fase itu?

# Taqwa, yaitu menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Soal perintah dan larangan bisa kita dapatkan dalam sumber utama hukum Islam, Alquran, hadits, qiyas, ijma', dan fatwa-fatwa para ulama.

Puncak tertinggi dari Taqwa adalah tingkatan terendah dari iman

# Iman, merupakan keyakinan yang bersumber dari hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan.

Puncak tertinggi dari iman adalah tingkatan terendah dari ridha

# Ridha, yaitu bersyukur atas segala ujian yang diberikan Allah kepada kita.
Diberikan kemiskinan, bersyukur. Diberi kekayaan tetap bersyukur. Diberi kesehatan, bersyukur. Bahkan saat diberi musibah pun tetap bersyukur. inilah Ridha. Dan inilah tingkatan tertinggi dari taqwa. !

Dengan demikian, untuk menjadi seseorang yang muttaqin atau setidaknya menyebut orang lain bertaqwa, kita harus menggunakan fase di atas sebagai indikator utama. Sehingga kelak kita takkan terjebak dalam paradigma sempit berupa fanatisme teologi keegosian tadi.




Sekian tulisan yang bisa saya bagikan, mohon maaf jika terdapat perbedaan pandangan apalagi yang sempat mengikis kebenaran yang selama ini anda yakini. Namun saya percaya, bahwa anda adalah orang-orang bijak yang mampu menerima kebenaran tanpa memandang subjektivitas nisbi. Karena bagi orang bijak, tidak ada kebenaran absolut di dunia ini selain kebenaran akan keberadaan Tuhan dan eksistensi mantan, cie serius amat bacanya.....

Pengertian Tawakal dalam Islam


Tawakal artinya berserah diri kepada Allah swt. atas hasil usaha kita setelah berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdo’a. Misalnya, akan menghadapi ulangan kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan soal-soal dengan cermat dan teliti. Setelah itu, kamu pasrah dan menyerahkan keputusan atas hasil usaha kamu kepada Allah swt. Contoh lain setelah seseorang bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, hasilnya diserahkan kepada Allah swt. yang Maha Pemberi Rizki, Maha Pemurah, dan Maha Kaya.

Kepribadian tawakal ini merupakan salah satu akhlak terpuji. Sikap tawakal merupakan awal yang baik. Seandainya hasil yang diperoleh tidak memuaskan maka dapat diterima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Sebaliknya, jika hasil yang diterima sangat memuaskan maka kita tidak merasa sombong dan angkuh, karena hal itu semata-mata karunia dari Allah swt.

Ingat! Manusia hanya berkewajiban untuk berusaha. Sedangkan keputusan sepenuhnya di tangan Allah swt yang memiliki sifat wajib Maha Berkehendak (iradah) dan Maha Kuasa. Perhatikan firman Allah swt. dalam Surah al-Maidah ayat 11 berikut ini:


Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allahlah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal”. (Q.S. al-Maidah/5: 11)

Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Loso, Samroni, Mulyadi

Pengertian Sikap Zuhud dalam Islam


Sikap zuhud merupakan salah satu sikap mulia yang diajarkan oleh Islam. Zuhud mengandung arti melepaskan diri dari keterikatan kepada dunia atau melepaskan diri dari diperbudak oleh dunia. Dengan demikian zuhud bukan berarti melepaskan diri terhadap kebutuhan dunia, karena hidup tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan. Namun, janganlah menganggap bahwa dunia adalah segala-galanya, sehingga lupa akhirat.

Orang yang zuhud disebut zahid. Sikap zuhud penting bagi setiap muslim. Setan selalu membisikkan agar semakin banyak yang didapat manusia, maka semakin banyak pula keinginanya terhadap yang lain. Setan menghendaki agar manusia menjadi makhluk yang serakah atau tamak.

Kebalikan dari sikap zuhud adalah sifat materialistis materi, dunia, dan harta benda adalah segala-galanya. Orang yang yang memiliki sifat materialistis artinya mempertimbangkan segala sesuatu hanya dari segi materi. Mereka menilai orang lain dengan ukuran materi, menilai diri sendiri juga dengan materi. Kebanyakan orang, karena terdorong nafsu setan maka kehidupanya hanya disibukkan untuk mencari kepuasan dunia. Bahkan terkadang banyak orang menjadi lupa terhadap dirinya sendiri karena mengejar dan mencari kebutuhan hidup dan mendewakan harta atau materi.

Pola hidup materialistis juga merupakan dampak atau pengaruh dari budaya dan pemikiran negeri barat. Mereka menganggap bahwa ukuran kehidupan adalah materi artinya, keberhasilan seseorang hanya diukur seberapa banyak materi yang diperolehnya. Mereka tidak peduli ajaran Islam dan aturan-aturan hukum Ajaran Islam tidak membenarkan kehidupan seseorang lebih cenderung kepada materi dunia, sehingga mengabaikan kehidupan akhirat, Allah swt., dan Rasul-Nya. Nilai-nilai ajaran agama dilecehkan dan berakibat pula kepada penderitaan orang lain.

Sebaliknya, Islam lebih menekankan terhadap pentingnya kehidupan akhirat. Materi atau harta yang dimiliki merupakan rizki dan karunia dari Allah swt. yang dipergunakan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah swt. dan Rasulnya mengajarkan kita untuk membuat keseimbangan antara kedua kehidupan, yaitu dunia dan akhirat. Allah swt. menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya, dalam Surah al-Qasas ayat 77 yang berbunyi:


Artinya: ”Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. al-Qashash/28: 77)

Rasulullah bersabda:
Pengertian Sikap Zuhud dalam Islam

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas r.a. katanya: Rasulullah saw. telah bersabda: Anak Adam menjadi semakin tua, tetapi ada dua perkara dari padanya yang akan menjadikanya semakin muda yaitu, tamak (rakus) kepada harta dan tamak kepada umur.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Banyak orang memusatkan segala perhatiannya kepada kehidupan duniawi semata, menikmati kesenangan, dan kelezatan dunia sebagai pemuas nafsu. Pada akhirnya mereka menganggap tidak ada lagi akhirat dan tidak akan ada pertemuan dengan Allah swt. untuk mempertanggung jawabkan semua amal perbuatannya selama di dunia. Orang yang tidak percaya kepada pertemuanya dengan Allah swt., akan selalu berbuat dosa melakukan penjarah- an. Misalnya, harta negara, penipuan, pemerasan, berjudi, mabuk-mabukan/ narkoba, berzina, perusakan lingkungan.

Mereka menghalalkan segala cara dalam setiap perbuatannya. Orang yang tidak percaya kepada pertemuannya dengan Allah swt. cenderung kikir, bakhil, dan pelit dalam harta. Apapun uang akan menyumbang, tidak percaya akan hari pembalasan. ia lihat dari segi kemanfaatan bagi dirinya. Sekecil apapun yang ia keluarkan ia melihatnya dari status sosialnya. Semakin banyak orang mengagung-agungkanya semakin besar sumbangannya.

Orang-orang kafir tidak pernah menerapkan sifat zuhud. Tujuan hidup mereka hanyalah bersenang-senang menikmati kehidupan dunia sampai akhir kehidupanya dan mereka makan layaknya binatang. Perhatikan hadis berikut ini.

Artinya: “Orang beriman makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus”. (H.R. al-Bukhari dan Muslim.)

Maksudnya, orang kafir itu mempunyai tujuh usus (perut) sebagai kinayah atau sindiran, bahwa mereka adalah orang-orang yang rakus.

Dengan demikian, zuhud bukan berarti tidak butuh dunia. Akan tetapi lebih menekan kepada hasrat menjauhkan diri dari kesenang- an dunia untuk mencapai kesenangan akhirat. Karunia yang berlimpah, dijadikan sarana untuk beribadah, berderma, bersedekah, zakat, membahagiakan keluarga, berbagi dengan orang lain, dan tujuan-tujuan mulia yang lain.

Zuhud bukan berarti harus hidup miskin. Orang kaya dapat menerapkan zuhud dengan meyakini bahwa harta yang dimiliki merupakan karunia dari Allah swt. Rejeki itu dipergunakan untuk mencapai ridha Allah swt. tidak untuk berfoya-foya. Demikian pula dengan orang yang hidup miskin juga dapat menerapkan zuhud. Mereka meyakini bahwa seberapapun rejeki yang didapat semua itu merupakan karunia Allah swt. yang harus disyukuri. Orang yang zuhud meyakini bahwa kebahagiaan di akhirat jauh lebih berarti dibandingkan dengan gemerlap dunia yang hanya sementara.

Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Loso, Samroni, Mulyadi

Al Qur’an sebagai Kitab Suci Umat Islam


Kitab suci Al Qur’an adalah kumpulan firman Allah swt. yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril yang ditulis di mushaf. Al Qur'an sebagai kitab suci Umat Islam ini diriwayatkan dengan mutawatir dan membacanya termasuk ibadah. Al Qur’an harus kita imani sebab Al Qur’an terjaga keasliannya sampai akhir zaman. Firman Allah swt. dalam Surah al-Hijr ayat 9 berikut ini:

Al Qur’an sebagai Kitab Suci Umat Islam
Artinya: ”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. al-Hijr/15: 9)

Al Qur’an dapat digunakan sebagai pedoman, tuntunan dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Berkat Al Qur’an manusia dapat terus mengembangkan ilmu pengetahuan untuk memenuhi keperluan hidupnya, seperti ilmu biologi, astronomi, dan lain-lain.

Kitab Al Qur’an adalah kitab yang paling lengkap dan paling terakhir diturunkan kepada umat manusia. Karena tidak ada lagi kitab sesudah Al Qur’an. Problem manusia saat itu tentu lebih banyak jika dibandingkan dengan umat terdahulu. Oleh karena itu, Al Qur’an diturunkan sebagai kitab yang paling lengkap jika dibanding kitab-kitab terdahulu. Oleh karena itu, pelajarilah Al Qur’an dan amalkanlah isi dan kandungannya.

Tugas

Seandainya kitab-kitab sebelum Al Qur’an pada saat ini masih ada dan masih terpelihara keasliannya. Bagaimana menurut pendapatmu?

Tahukah Kamu

Seorang ahli bedah Prancis, Prof. Dr. Maurice Bucalle memeluk agama Islam secara diam-diam. Sebelumnya, ia membaca dalam Al Qur’an bahwa Firaun itu mati karena tenggelam di laut (dengan shock yang berat). Jasadnya oleh Allah swt. diselamatkan (QS.Yunus : 92). Ia mencari mumi Firaun itu. Setelah ketemu, dilakukannya bedah mayat.

Hasilnya membuat ia terheran-heran, karena sel-sel Firaun menunjukkan bahwa kematiannya benar-benar karena tenggelam di laut dengan shock berat. Menemukan bukti ini ia yakin bahwa semua ayat-ayat Al Qur’an masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Ia lantas memeluk agama Islam.

Pengertian dan Macam-macam Huruf Qalqalah

Pengertian Qalqalah

Menurut bahasa qalqalah artinya pantulan gerak atau getaran suara. Menurut istilah qalqalah melafalkan huruf-huruf tertentu dalam satu kalimat dengan suara memantul dari makhrajnya karena huruf tersebut berharakat fathah, dammah atau kasrah yang dibaca sukun karena berhenti.

Dengan demikian bacaan qalqalah terjadi apabila :

  1. Huruf qalqalah berharakat sukun, atau
  2. Huruf qalqalah berharakat fathah, dammah, atau kasrah yang dibaca sukun karena waqaf (berhenti).

Adapun huruf qalqalah ada 5 (lima), yaitu:
Pengertian dan Macam-macam Huruf Qalqalah
Dikumpulkan menjadi:
Macam-macam Huruf Qalqalah

Macam-Macam Qalqalah

Bacaan qalqalah dibagi menjadi dua macam, yaitu Qalqalah Kubra dan Qalqalah Sugra.

a. Qalqalah Kubra : artinya Qalqalah Besar.
Qalqalah besar adalah huruf qalqalah yang terletak pada akhir kata yang dibaca sukun, baik karena memang berharakat sukun atau berharakat fathah, dammah, kasrah atau tanwin, tetapi dibaca waqaf (berhenti).

Cara membacanya harus lebih mantap dengan memantulkan suara dengan pantulan yang kuat.

Contoh :
Macam-macam Huruf Qalqalah
Pengertian dan Macam-macam Huruf Qalqalah


b. Qalqalah Sugra : artinya qalqalah kecil.
Qalqalah Sugra atau kecil adalah huruf qalqalah yang terletak di pertengahan kata yang berharakat sukun. Cara membacanya dengan pantulan yang tidak terlalu kuat.

Contoh :

Contoh: Dibaca bergetar, mantap, dan seperti membalik

Menerapkan Hukum Bacaan Qalqalah dalam Al-Qur’an


Carilah bacaan yang mengandung qalqalah kubra dan qalqalah . sugra dalam Q.S. al-‘Adiyat di bawah ini:

Menerapkan Hukum Bacaan Qalqalah dalam Al-Qur’an


Sumber :
Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Loso, Samroni, Mulyadi

Puisi Islami Yang Bijak Mampu Menggetarkan Kalbu

Sajian kata kata bijak kali ini akan coba mengulas puisi islami yang disadur dari sebuah buku yang cukup fenomenal, yaitu Papyrus karya Fatin Hamama.

Puisi yang bernuansa islami ini bisa menjadi ladang untuk memahami keindahan dan kekayaan sajak serta sastra Islam yang begitu luas dan agung. Puisi layaknya hati yang mengungkapkan satu kata untuk sekian kalimat, untuk sekian makna.

pusis bijak islami

Kehadiran puisi selain sebagai karya sastra juga dimaksudkan untuk mengembalikan makna dan hikmah yang tergusur lantas hilang ditelan gelamornya dunia. Untuk itu, selamat bertawadhu (merendahkan hati), dan bacalah sajian puisi kehidupan islami berikut....




Al-Hadid

Ketika sepotong besi jadi tombak
besi tak pernah tahu
untuk apa dia dijadikan tombak

Ketika sepotong besi jadi pisau
pisau tak pernah tahu
untuk apa dia jadi pisau

Ketika sepotong besi jadi peniti
peniti tidak pernah tahu
untuk apa dia jadi peniti

Kecuali suatu hari tombak
dijadikan alat pembunuh
dan bersarang di jantung kiri
tombak mengeluh
aku tak ingin jadi seperti ini

Demikian pisau
ketika menemukan dirinya
di leher sebagai penebas
pisau mengaduh
aku tak bercita-cita jadi begini

Ketika besi yang menjadi senjata
berubah fungsi
diam-diam peniti mensyukuri
"aku menjadi, penyemat baju seorang sufi
setiap hari aku dibawa
rukuk sujud dan mensyukuri
nikmat Tuhan yang diberi
aku tidak ingin patah
biar berkarat aku ini"

Makna : Al hadid merupakan nama dalam sebuah surat dalam Al-Quran yang berarti besi. Maksud dari pusis al hadid di atas adalah sebuah benda (dalam hal ini besi) akan mengalami peralihan fungsi akibat tangan manusia. Seperti apapun peralihan fungsi itu, misal menjadi tombak, pisau, atau peniti, semuanya merupakan implementasi dari sifat manusia yang menggunakannya.


Luqman

Luqman yang hitam kulitnya
tapi tak kelam hatinya
pada suatu hari berkata pada anaknya

jangan kau sekutukan Tuhan anakku

bakti pada ayah ibu
di atas segala kepayahan dikandung dan dibesarkan
kamu

taati Tuhan
sekalipun ayah ibu menyesatkan
tak usah kau patuhi mereka
tapi tetap kau hormati keduanya

tak ada yang tersembunyi bagi tuhanmu
sekecil apapun perbuatanmu
Tuhan tahu dan pasti membalasi
mohon ampun atas segala dosa

dirikan shalat anakku
supaya kau terjauh dari yang mungkar
sabarlah atas takdir dan wajib Tuhanmu

jangan angkuh dan sombong
karena jelas Tuhanmu tak setuju

dan rendahkan suaramu anakku
agar jangan sampai seperti suara keledai dungu

Makna : Luqman meruapakn tokoh dalam sejarah dan dunia Islam yang bahkan namanya dikekalkan Allah Swt menjadi salah satu surat dalam Al-quran.

Puisi yang berjudul Luqman diatas pada dasarnya menjelaskan bagaimana nasehat Luqman kepada anaknya yang berisikan banyak nasehat kebajikan. Semisal jangan menjadi musyrik (menyekutukan Tuhan), berbakti kepada kedua orang tua, serta jangan menjadi manusia yang angkuh dan sombong.

Nasehat luqman tentu tidak hanya berlaku bagi anaknya melainkan bagi kita semuanya sebagai umat Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan.




Maryam

Kau Tahu Tuhan
betapa bersih tubuhku
betapa suci rahimku

tak mungkin terjadi
apa pun atas
diriku
kecuali atas
kuasa-Mu

kupeluk
malu
hanya karena-Mu
karena-Mu
Tuhanku

Makna : Puisi di atas menggambarkan penerimaan dan keikhlasan Maryam, seorang wanita mulia dan dimuliakan Tuhan, dalam mengemban takdir untuk melahirkan seorang anak tanpa bapak.

Meski harus menerima berbagai konsekuensi, namun Maryam tetap teguh akidahnya dan yakin bahwa tidak ada yang lebih agung dari rencana Tuhan.

Demikianlah sajian dari beberapa puisi islami di sertai makna singkat yang bisa kami sajikan, semoga bermanfaat bagi anda sekalian.




Cara Menasehati Anak Dalam Islam

Anak adalah buah hati impian jiwa untuk seluruh orang tua. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya berjalan ke jalan yang tidak diridhoi oleh Allah Swt. Tidak juga ingin melihat anak-anaknya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi yang namanya kehidupan, tidak semuanya dapat berjalan baik sesuai dengan yang kita inginkan. Seorang anak selaku manusia kadang juga melaksanakan hal-hal yang kita anggap tidak baik selaku orang tua. Bagaimana cara menasehati anak secara baik ? Dalam menasehati atau menegur anak hendaknya orang tua memperhatikan hal-hal berikut ini.

1. Pendekatan Emosional.
Orang tua harus pintar pintar dalam melakukan pendekatan kepada anak saat anaknya melaksanakan kesalahan, jangan lansung dimarahi saat ia selesai melaksanakan kesalahan, tegur dengan tegas dan ajak ia duduk serta arahkan dengan baik, disaat inilah orang tua bisa mengistal dalam otak anak sebuah aplikasi kebaikan dan tatacara prilaku baik dan benar, sebab dalam keadaan ini sang anak tidak dalam keadaan tertekan.

Cara Menasehati Anak Dalam Islam

2. Berikan Motivasi
Salah satu yang membuat anak untuk berbuat baik adalah motivasi dari orang tua, nah dalam hal ini bisa dicontohkan jika anak renking satu dikelas nanti bapak kasih meja belajar, atau jika anak hafal AlQuran 10 Juz akan bapak umrohkan, dan sebaginya, ini adalah motivasi orang tua yang sangat ngefek dari pada motivasi yang ia dapat dari sekolah. dahulukan reward baru punishiment.

3. Jangan Pernah Membohongi Anak
Janganlah bohong kepada anak-anak, ketika anak tahu bahwa apa yang dikatakan orang tuanya adalah bohong, maka anak itu akan mencari orang yang lebih dipercaya di luar rumah. Nabi Muhammad SAW telah melarang orang tua berbohong kepada anaknya. Secara tidak lansung wibawa dari orang tua akan berkurang sebab kebohongan yang dilakukan orang tua, hal ini mengakibatkan anak sulit untuk dinasehati oleh orang tuanya.

4. Meninggikannya Baru Merendahkannya
Saat sang anak melakkukan kesalahan, hal yang sangat dilarang adalah menyebarkan keburukan anak itu, anak akan depresi jika mendengar keburukannya telah tersebar, orang tua sebagai pengayom anak wajib tahu carannya menghilangkan depresi pada anak. yaitu dengan cara membuatnya tinggi (dengan cara memuuji kelebihannya) dan lalu menjatuhkannya (mengungkit kejelekan yang baru ia lakukan secara rahasia dan lemah lembut), ini berfungsi sebagai pancingan motivasi anak, agar ia semakin malu dengan hal buruk dan bangga dengan hal baik. jika caranya terbalik maka hasilnya pun kemungkinan akan terbalik. ingat meninggikan dulu baru dijahtuhkan.

5. Dengarkan dia, Baru Bicara
Yang paling utama juga ini, orang tua membuka dengan pertanyaan sederhana lalu biarkan anak menjelaskan apa yang terjadi dan yang menurut ia benar. jika orang tua menemukan kesalahan dalam prilakua yang telah dijelaskannya, maka orang tua baru memberikan masukan dan petunjuk kepada anak, ini juga jangan sampai terbalik. maka dengarkan ia bicara baru orang tua yang bicara.

Nah itu tips memberikan masukan kepada anak, semoga orang tua bisa lebih mudah dalam memberikan nasehat kebaikan kepada anaknya dan menjaga anak anaknya dalam kebaikan. nah semua yang saya jelaskan diatas ada hubungannya dengan dalil dalil berikut :

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya  : Setiap anak dilahirkan dalam keadaaan suci. maka orang tuanyalah yang mejadikan anak itu yahudi atau nashrani atau majusi (penyembah api). (H.R. Bukhari).