Dongeng Motivasi - Duri Mawar

Dongeng Mawar Berduri


Suatu hari seorang gadis remaja pulang dalam keadaan menangis.

Dan si Nenek-lah yang pertama kali mendapati sang cucu menangis tersedu-sedu di halaman rumah mereka.

“Kenapa kamu menangis, cucuku?” tanya si Nenek lembut pada sang cucu.

Diceritakanlah olehnya kepada si Nenek bagaimana dia menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Katanya dia tidak cantik-lah, dia bodoh-lah, dan olok-olokan lainnya.

“Seperti duri mawar,” celetuk si Nenek tiba-tiba dan gadis tadi hanya memandangnya bingung. Si Nenek tersenyum lalu berkata pada sang cucu, “Semua yang ada di alam ini tercipta dengan memiliki tujuan dan gunanya masing-masing. Bukan begitu?”

Gadis tadi mengangguk kecil.

“Lalu duri pada mawar itu apa gunanya?” lanjutnya bertanya. “Hewan-hewan hama ataupun burung tidak merasa takut dengan duri mawar tersebut. Dan duri-duri itu pun juga justru tidak membuat kumbang-kumbang tertarik untuk menyerbuki mawar.”

Gadis tadi hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa terhadap kata-kata si Nenek.

Si Nenek pun menceritakan dongeng singkat padanya.

“Tahukah kamu...? Dahulu kala saat mawar pertama kalinya datang ke dunia, ia membuat bunga-bunga lain pada cemburu karena kecantikannya yang tiada tara.” “Saking besarnya rasa cemburu mereka, bunga-bunga tersebut pun sepakat untuk mengerubungi mawar dan menutupinya hingga tak ada mata yang dapat menangkap secuil pun sosok mawar. Sekian waktu hal tersebut berlangsung hingga suatu hari mawar mengeluarkan sesuatu serupa kail yang melekat di tubuhnya agar ia bisa merambat memanjati bunga-bunga yang mengerubunginya tersebut. Sesuatu serupa kail yang disebut duri itulah yang membuat mawar berhasil melepaskan diri dari kerubungan bunga-bunga yang ingin menutupi keindahan dirinya.”

Si Nenek memandangi sang cucu yang asyik mendengarkan ceritanya.

Dengan tersenyum si Nenek melanjutkan, “Keindahan ada di mana-mana di dunia ini, cucuku. Bahkan di tiap-tiap manusia, keindahan dan kecantikan selalu ada. Dan karenanya pula dalam hidup, akan ada saja bunga-bunga lain yang ingin mengerubungi untuk membenamkan kecantikan kita. Dan jika kamu tak ingin terbenam teredupkan oleh bunga-bunga lain, maka carilah durimu, carilah durimu yang bisa membantumu memanjat melepaskan diri dari kerubungan bunga-bunga yang mengerubungimu.”


Hak Cipta © Dongeng Motivasi - Duri Mawar milik Termotivasi.com

Renungan Tentang Ujian Tuhan Kepada Manusia

Ada kutipan ayat menarik terkait dengan bahasan tentang ujian dari Sang Pencipta untuk membangun jiwa dan kesadaran kerohanian yang utuh. Kutipan tersebut berbunyi "That which has been is that which will be, And that which has been done is that which will be done. So, there is nothing new under the sun ", terdapat dalam al kitab Bibel King James Version, bagian Ecclesiastes 1:9.

Sebuah ayat yang mengisyaratkan bahwa apa yang telah terjadi akan terjadi, dan apa yang dulu pernah terselesaikan akan terselesaikan juga. 

renungan ujian tuhan kepada manusia

Ayat itu menjadi semacam motivasi bagi umat Nasrani, bahwa segala yang ada di dunia ini telah pernah ada. Oleh sebab itu segala bentuk ujian dan kesulitan hidup merupakan perkara yang telah di alami oleh umat terdahulu. Dan pasti akan berlalu.

Hal serupa juga termaktub dalam Al-Quran, Allah berfirman : " “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214).

Terlepas dari segala perbedaan yang ada, dua agama besar (Nasrani dan Islam) ini, kiranya mengajarkan kebaikan yang serupa.

Adalah benar jika semua agama tidaklah sama dan hanya satu yang benar. Namun juga benar bahwa semua agama mengajarkan kebaikan kepada manusia dan umatnya secara inklusif.




Eksklusifitas yang dibuat manusia dalam beragama bisa menghancurkan diri mereka sendiri. Menganggap bahwa agama kita yang paling benar itu sah sah saja. Namun memaksakan kehendak agar mengikuti agama sendiri itulah yang keliru.

Karena tidak ada paksaan dalam beragama apalagi saling menghina. Allah mengingatkan kita dalam firman Nya:

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka."(QS. Al-An'am 108).

Terkait dengan ujian yang diberikan Tuhan kepada manusia, Dia memberikan dengan standar Cinta Ilahi yang terkadang sulit untuk dirasionalkan. Karena memang demikianlah pemahaman kita sebagai manusia yang sangatlah dangkal dibandingkan ilmu Nya.

Kita sebagai manusia dan hambaNya akan diuji jika Dia cinta kepada kita dan kita pun mengaku cinta kepada Nya.

Ibn Arabi pernah berkata, "Ujian takkan muncul kecuali bagi mereka yang mengaku cinta kepada Allah Swt. Siapa saja yang tak mengaku cinta kepadaNya, ia tak akan diuji untuk membuktikan ketulusan pengakuan cintanya. Jadi, jika tak ada pernyataan cinta, tak akan datang ujian kepadanya.

Ketika Allah mencintai hambaNya yang mencintaiNya, maka Allah memberikan cintaNya kepada mereka tanpa mereka ketahui. Tiba tiba saja mereka menemukan rasa cinta kepadaNya dalam diri mereka. Kalau sudah begitu, mereka membuat pernyataan bahwa mereka mencintai Allah. Makanya, Allah kemudian menguji mereka lantaran pengakuan yang mereka buat itu.

Tapi sebenarnya, mereka juga diberi kenikmatan oleh Allah. Karena nyatanya mereka menjadi para kekasihNya. Kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada mereka adalah bukti CintaNya kepada mereka. Sedangkan ketika Allah memberikan ujian kepada mereka, itu karena mereka mengaku cinta kepadaNya. Oleh karenanya, Allah akan menguji siapa saja di antara para makhlukNya yang menyatakan cinta kepadaNya."




Hewan yang Halal dan Haram untuk Dimakan

Hewan yang Halal untuk Dimakan

Hewan yang halal untuk dimakan, maksudnya kita diperbolehkan makan hewan-hewan tersebut, jika kita makan kita tidak dosa.

Secara umum hewan halal dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

1. Hewan Halal Berdasarkan Dalil Umum

Berdasarkan dalil umum hewan halal meliputi ;

a. Binatang ternak darat, seperti: kambing, domba, kerbau, sapi, dan onta. Firman Allah swt. dalam Surah al-Maidah ayat 1.
Artinya : "Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu." (Q.S. al-Maidah/5: 1)

b. Binatang buruan laut, yaitu semua jenis binatang yang hidup di air, termasuk di danau maupun di sungai. Semuanya adalah halal bagi umat Islam. Firman Allah swt. dalam Surah al- Maidah ayat 96 :
Artinya: "Dihalalkan bagimu hewan buruan laut" (Q.S. al-Maidah/5: 96)

Kehalalan semua jenis binatang laut mencakup juga semua bangkai ikan laut. Sabda Rasulullah saw.:

Artinya: "Dihalalkan bagi kami dua macam bangkai dan dua macam darah, yaitu bangkai ikan dan belalang." (H.R. Ibnu Majah dan Hakim)

Mengapa jenis binatang laut termasuk bangkainya halal bagi umat Islam? Karena air laut adalah air yang suci sehingga berpengaruh terhadap semua jenis binatang yang hidup didalamnya. Nabi Muhammad saw. bersabda:

Artinya: “ia (laut) itu airnya suci dan halal bangkainya". (H.R. Malik)

2. Hewan Halal Berdasarkan Dalil Khusus

Hewan halal berdasarkan dalil khusus maksudnya dalil tersebut langsung menyebut jenis hewan yang dimaksud. Adapun hewan-hewan tersebut adalah:

a. Kuda

Nabi bersabda yang artinya " Pada zaman Rasulullah kami pernah menyembelih kuda dan kami memakannya." (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

b. Keledai Liar

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Tentang kisah keledai liar, maka Nabi saw. makan sebagian dari daging keledai itu". (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

c. Dab (Binatangnya Mirip Biawak)

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Daging dab dimakan pada hidangan Rasulullah saw." (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

d. Kelinci

Dalam salah satu hadis dijelaskan yang artinya : Dalam hal kisah kelinci, ia berkata, "Ia menyembelihnya, lalu dikirimkan daging punggungnya kepada Rasulullah saw. dan beliau menerimanya." ( H.R. al-Bukhari dan Muslim)

e. Ayam

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Pernah aku melihat Nabi saw. makan daging ayam" (H.R. al-Bukhari dan at-Tirmidzi)

f. Belalang

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Kami berperang bersama Rasulullah saw. tujuh kali perang, kami memakan belalang." (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Hewan yang Haram untuk Dimakan

Umat Islam dapat mengetahui tentang haramnya suatu binatang melalui dua hal, yaitu:

1. Melalui dalil umum, yaitu dalil yang hanya menyebut sifat binatang, sehingga haram untuk dikonsumsi oleh umat Islam. Ada tiga jenis binatang yang haram berdasarkan dalil umum karena memiliki sifat yang dikhawatirkan sangat mudah beralih pada diri manusia. Ketiga jenis sifat binatang tersebut adalah:

a. Memiliki sifat buas karena bertaring, seperti : harimau, macan tutul, anjing hutan, dan beruang.
Nabi Muhammad saw. bersabda:

Artinya: "Setiap binatang buas yang bertaring, haram dimakan." (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

b. Setiap binatang yang berkuku tajam, seperti : burung rajawali, burung elang, burung kaka tua, dan burung hantu, Nabi Muhammad saw. bersabda:

Artinya: "Rasulullah telah melarang (memakan)setiap burung yang berkuku tajam" (H.R. Muslim)

c. Setiap binatang pemakan kotoran, seperti: lalat. Nabi Muhammad saw. bersabda: "Dari Ibnu Umar r.a berkata "Rasulullah saw. melarang memakan binatang jelalah (binatang pemakan kotoran) dan meminum susunya." (H.R. Arba'ah kecuali Nasai)

2. Melalui dalil khusus yaitu, dalil yang langsung menyebut haramnya jenis binatang tertentu. Ada tujuh jenis binatang yang haram dimakan oleh umat Islam karena masing-masing disebut oleh dalil yang melarangnya. Ketujuh binatang itu adalah:

a. Daging Babi

Allah swt. berfirman: Artinya: "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi .... (Q.S. al-Maidah/5: 3)

b. Khimar atau keledai jinak

Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya: "Nabi telah melarang makan daging khimar jinak dan mengijinkan daging kuda." (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

c. Dilarang membunuh, seperti : burung suradi, katak, semut, dan burung hud-hud.

Nabi Muhammad saw. bersabda: Artinya: "Rasulullah telah melarang membunuh burung suradi, katak, semut, dan burung hud-hud". (H.R. Ahmad)

d. Disuruh membunuhnya, seperti : burung gagak, burung elang, kalajengking, anjing liar

Nabi Muhammad saw. bersabda Artinya: "Lima binatang jahat yang disuruh membunuhnya adalah burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing liar." (H.R. Muslim)

e. Karena kotor, seperti : tungau, kutu, kecoa, dan sejenisnya

Allah swt. berfirman dalam Surah al-A’raf ayat 157 :
Artinya: "Dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka." (Q.S. al-A'raf/7: 157 )

f. Katak
Artinya: "Sesungguhnya seorang tabib bertanya kepada Rasulullah tentang katak untuk keperluan obat, Rasulullah melarang membunuhnya." (H.R. an-Nasa’i)

g. Binatang yang tidak jelas hukumnya antara halal dan haram (syubhat)
Terhadap jenis binatang seperti ini, umat Islam dapat meneliti berdasarkan sebab tersebut. Kalau ada kesamaan sebab dihalalkan atau diharamkan, maka mengikuti sebab tersebut. Namun kalau tidak. adanya sebab tertentu, dapat dikembalikan kepada hukum asal, yaitu mubah.

Menghindari Makanan yang Bersumber dari Hewan Haram


Sekarang kalian sudah mengerti tentang jenis-jenis hewan yang halal dan yang haram, sehingga kalian dapat menghindari makanan-makanan yang bersumber dari hewan yang haram.

Adapun cara untuk menghindari makanan yang bersumber dari hewan yang haram adalah:

  1. jika ingin makan daging, sebaiknya kita menyembelih sendiri, sehingga tahu persis jenis hewan yang kita sembelih. Cara menyembelihnya pun kita juga tahu yaitu juga dengan cara yang halal,
  2. jika kita tidak menyembelih sendiri sebaiknya kita tanyakan pada penjual daging tersebut, tentang jenis binatangnya, termasuk ditanyakan dagingnya segar atau sudah bangkai,
  3. jika makanan-makanan daging tersebut sudah dalam bentuk kalengan maka lihatlah disitu ada labelnya (halal) atau tidak, jika tidak ada labelnya halal sebaiknya jangan dimakan,
  4. jika makan di restoran, makanlah di restoran muslim yang menjamin makanannya halal, dan
  5. tidak mudah terpengaruh terhadap promosi atau tipu daya orang lain.


Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Depdiknas

Dendam dan Munafik dalam Agama Islam

Setelah mempelajari artikel ini kalian diharapkan dapat menjelaskan pengertian perilaku dendam dan munafik, menjelaskan ciri-ciri pendendam dan munafik. Serta dapat menghindari perilaku pendendam dan munafik dalam kehidupan sehari-hari.

Kalian ingin bahagia, maka jangan ada penyakit dalam hatimu. Coba sebutkan macam-macam penyakit hati yang kamu ketahui, selain dendam dan munafik.

Pernahkah kalian disakiti oleh temanmu? Bagaimana perasaan kamu? Apakah kamu memaafkan temanmu tadi atau ada keinginan membalas sakit hati tersebut. Jika kamu ada keinginan untuk membalas sakit hati kamu tersebut itulah yang disebut dendam. Dengan demikian apa yang dimaksud dendam, bagaimankah ciri-cirnya, serta bagamana cara menghindari perilaku pendendam tersebut.

Dendam

1. Pengertian Dendam

Dendam adalah sifat ingin membalas perbuatan seseorang. Sifat dendam merupakan perbuatan yang tercela dan biasanya sifat dendam ini bersumber dari sifat marah atau sifat kurang puas melihat segala hal yang terjadi. Perbuatan mendendam sangat dibenci oleh Allah swt. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. sebagai berikut:

Artinya : "Diriwayatkan dari Aisyah r.a. Rasulullah bersabda : Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling pendendam." (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

2. Ciri-ciri Pendendam

Ada beberapa ciri orang yang mempunyai sifat pendendam antara lain :

  1. Tidak senang jika melihat orang lain senang. Orang pendendam hatinya akan sedih, gelisah, dan iri jika orang lain mendapat kenikmatan.
  2. Merasa senang jika orang lain menderita. Sebaliknya orang pendendam hatinya akan senang dan gembira bila orang lain menderita, tidak mau menolong malah mengejeknya.
  3. Selalu membalas kesalahan dan kejelekan orang lain. Orang pendendam, jika orang lain melakukan kesalahaan maka akan diungkit-ungkit dan terus dibicarakan dengan orang lain. Kejelekan orang lain selalu dibicarakan, sementara mereka sendiri kadang lebih jelek daripada orang tersebut.
  4. Suka memfitnah orang lain. Pendendam biasanya suka memfitnah orang lain menjelek-jelekkan orang dimata orang lain, padahal orang tersebut tidak melakukan kejelekan seperti yang disampaikan oleh orang yang pendendam tersebut. e. Suka membuka rahasia orang lain. Orang pendendam biasanya tidak bisa menyimpan rahasia, justru kalau mengerti rahasia orang lain akan diceritakan ke orang lain lagi.


3. Akibat negatif pendendam 
Ada dua akibat yang ditimbulkan oleh orang pendendam, yaitu akibat untuk diri sendiri dan akibat negatif bagi orang lain.

a. Bagi diri sendiri
1) Hidupnya tidak pernah merasa tenang
2) kehidupannya tersiksa oleh perasaan sendiri
3) Mudah terserang penyakit tekanan darah tinggi dan jantung.
4) Banyak dibenci orang.

b. Bagi orang lain
1) Kehidupan orang lain terasa kurang nyaman.
2) Terkurangi haknya untuk bersahabat dengan siapapun.
3) Dapat mengundang sifat permusuhan orang lain.

4. Menghindari dari perilaku pendendam 
Sifat pendendam merupakan sifat yang tidak baik dan dibenci Allah swt. Oleh karena itu, sifat tersebut harus kita hindari dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Selalu mendekatkan diri pada Allah swt. dengan cara memperbanyak ibadah, zikir. dan doa sehingga hati kita tenang.
  2. Menjadi orang pemaaf. Apabila orang lain melakukan kesalahaan terhadap diri kita dan sudah meminta maaf maka sebaiknya juga kita memaafkan, sehingga tidak timbul rasa dendam di dalam hati kita.
  3. Tidak membicarakan kejelekan orang lain.
  4. Tidak memfitnah orang lain.
  5. Jika kita mengetahui rahasia orang lain maka sebaiknya disimpan saja, tidak usah diceritakan ke orang lain lagi.
  6. Silaturahmi, yaitu mengunjungi saudara atau orang lain untuk menyambung persaudaraan.


Munafik

1. Pengertian Munafik

Munafik yaitu seseorang yang menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ada didalam hati. Perbuatan munafik disebut nifaq. Orang munafik bentuk pribadi mendua atau bermuka dua, jika ia berada di kelompoknya A, dia mengaku ikut bergabung dengan A, menyanjung-nyanjung A dan menjelek-jelekkan B. Tetapi kalau sedang ada di kelompok B, ia juga berbuat seperti pada waktu di kelompok A, ia menyanjung kelompok B dan menjelekkan kelompok A. Oleh karena itu orang munafik sering disebut orang yang bermuka dua.

2. Ciri-ciri Orang Munafik

Ciri-ciri orang munafik ada 3 yaitu:

a. Jika berbicara dusta.

Orang munafik kalau berbicara cenderung berbohong atau dusta dan ini akan dilakukan terus-menerus karena dusta yang sekarang untuk menutupi dusta yang kemarin dan dustanya hari ini akan ditutup dengan dusta yang besok dan seterusnya.
b. Jika berjanji ingkar.
Orang munafik sering mengobral janji, tetapi janji tersebut sering diingkari dengan berbagai alasan untuk membenarkan dirinya.

c. Jika dipercaya khianat.
Orang munafik jika dipercaya atau diberi tanggung jawab justru ia akan menyalahgunakan kepercayaan tersebut.

Ciri-ciri orang munafik tersebut sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim sebagai berikut :

Artinya: "Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. katanya: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara: apabila berkata dia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila diberi kepercaya- an dia mengkhianati." (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

3. Menghindari sifat munafik.

Munafik adalah perbuatan dosa, haram hukumnya dilakukan oleh orang Islam. Oleh karena itu sifat munafik harus kita hindari dengan cara-cara berikut:

a. Memperbanyak mengaji
Memperbanyak mengaji dan mendengarkan ceramah-ceramah agama sehingga kefahaman tentang agama akan meningkat, bahwa munafik itu perbuatan dosa yang dilarang oleh agama dan diancam akan dimasukkan dalam neraka.

b. Menjaga lisan.
Dalam berbicara hendaknya yang baik tidak macam-macam dan berbicara dengan benar atau tidak dusta.

c. Tidak mudah membuat janji.
Jika terpaksa harus berjanji dengan orang lain hendaknya didahului kata Insya Allah dan janji tersebut juga harus benar-benar ditepati.

d. Memegang amanat dengan baik.
Jika diberi kepercayaan maka kepercayaan tersebut kita pegang sungguh-sungguh. Jangan malah disalah gunakan.

Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Depdiknas

Adab Makan dan Minum Menurut Agama Islam

Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan kita sehari-hari. Meskipun demikian, seringkali kita belum terlalu memperhatikan bagaimana adab makan dan minum yang benar. Apakah kamu sudah mempraktekkan adab makan dan minum sesuai dengan ajaran agama Islam? Lalu, bagaimana sebenarnya adab makan dan minum menurut tuntutan agama Islam?

Adab Makan dan Minum

Setiap hari se lama hidup, kita selalu melakukan kegiatan makan dan minum. Makan dan minum memberikan kita tenaga dan kekuatan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Karena dilakukan setiap hari, maka kebanyakan dari kita kemudian tidak terlalu memperdulikan adab makan dan minum yang benar. Makan dan minum sesungguhnya bukan hanya persoalan memindahkan makanan dari piring ke dalam perut. Makan dan minum, apabila dilakukan dengan benar, juga merupakan bentuk ibadah dan tanda syukur kita kepada Allah swt.

Agama Islam merupakan agama yang diturunkan untuk kebaikan umat manusia. Segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia dibahas di dalamnya, tidak terkecuali untuk permasalahan makan dan minum. Agama Islam mengajarkan tata krama yang harus kita patuhi dalam melakukan makan dan minum. Tahukah kamu apa saja adab makan dan minum yang diajarkan oleh Islam?

Berikut ini merupakan adab makan dan minum yang diajarkan oleh agama Islam.

1. Berdoa Sebelum Makan dan Minum

Jika kita akan memulai suatu aktifitas, sangat dianjurkan untuk memulainya dengan mengucapkan doa terlebih dahulu. Doa ini kita maksudkan untuk meminta bimbingan, petunjuk, dan perlindungan dari Allah swt. Tak terkecuali dalam kegiatan makan dan minum.
Adab Makan dan Minum Menurut Agama Islam
Artinya: “Ya Allah berkahkan kepada kami rizki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jauhkan kami dari api neraka.”

2. Mencuci Tangan

Sebelum makan hendaknya kita mencuci tangan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan karena besar kemungkinan tangan kita masih kotor dan mengandung kuman. Islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga kebersihan. Islam bahkan dengan jelas mengatakan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.

3. Makan dengan Menggunakan Tangan Kanan dan Mengambil Makanan yang Terdekat Dahulu 

Rasul mengajarkan pada kita agar ketika makan hendaknya menggunakan tangan kanan, bukannya tangan kiri. Hal ini dikarenakan syaitan ketika makan selalu menggunakan tangan kirinya. Dan berusahalah untuk mengambil makanan yang terdekat terlebih dahulu. Apabila makanan yang disukai berada di lokasi yang jauh, dekatkan makanan itu terlebih dahulu, baru kita ambil.

4. Jika Sebelum Makan Lupa Berdoa, Maka Bacalah Basmallah di Tengah-tengah Saat Kita Makan

Rasulullah saw. bersabda: yang artinya “Jika salah seorang dari kamu makan, sebutlah dulu nama Allah. Maka jika lupa tidak membaca pada awalnya, hendaknya membaca sewaktu ingat ditengah-tengah makan.” (H.R. Abu Dawud)

5. Jangan Mencela Makanan

Jika kita sedang tidak selera makan atau tidak suka pada makanan yang disajikan, janganlah mencela makanan tersebut. Akan lebih baik apabila kita diam dan tidak memakan makanan tersebut. Pada hakekatnya rezeki adalah pemberian dari Allah swt., sehingga apabila kita mencela makanan sama halnya kita mencela rezeki yang diberikan oleh Allah swt. kepada kita.

6. Habiskan makanan yang disajikan

Ketika makan, hendaknya seluruh makanan yang disajikan harus kita habiskan. Jangan sampai ada yang tersisa karena makanan itu mengandung berkah. Karena tidak tahu di bagian mana berkah itu berada, maka kita harus menghabiskan seluruh makanan itu agar mendapatkan berkah.

7. Jangan menghabiskan minuman dalam sekali teguk

Rasulullah saw. mengajarkan bahwa ketika minum hendaknya kita tidak menghabiskannya dalam sekali teguk. Usahakan kita menengguk minuman 2 atau tegukan 3 sebelum menghabiskannya.

8. Tidak meniup makanan yang panas

Seringkali ketika makan, makanan yang disajikan masih dalam keadaan panas mengepul. Malah ada beberapa orang yang hanya mau makan apabila nasi atau makanan masih tersaji dalam keadaan panas. Islam mengajarkan untuk tidak meniup makanan yang masih panas. Tunggulah beberapa saat hingga makanan itu agak dingin baru kemudian kita makan.

9. Jangan Makan atau Minum Sambil Berdiri atau Beralan

Agama Islam mengajarkan untuk menghormati makanan dengan memakannya dalam keadaan duduk dan tidak bergerak. Makan dan minum sambil berjalan atau berdiri akan meng- hilangkan keberkahan yang berada dalam makanan tersebut.

10. Mengakhiri Acara Makan dengan Berdoa

Apabila sebelum makan kita diajarkan untuk berdoa, maka ketika selesai makan pun harus kita akhiri dengan berdoa juga.
Adab Makan dan Minum Menurut Agama Islam
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita makan dan minum dan telah menjadikan kita orang muslim.”


Mempraktikkan Adab Makan dan Minum dalam Kehidupan Sehari-Hari

Sekarang kalian telah mengetahui tata krama makan dan minum sesuai dengan ajaran Islam. Menjadi kewajiban kalian sekarang untuk mempraktikkan adab makan minum tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kalian mempraktikkannya? Jika belum, maka cobalah mulai sekarang untuk melakukannya bersama keluarga. Ayah dan ibu kamu pasti bangga apabila kamu telah bisa melakukan makan dan minum sesuai dengan ajaran agama Islam.


Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Depdiknas

Renungan Inspiratif - Memandang Dari Segala Perspektif

Kisah Inspiratif


Melihat segala sesuatunya itu, sebaiknya Anda lakukan dengan melihat dari segala aspek.

Selagi berada di sebuah resto, ada seseorang yang berpapasan dengan Anda dan menyambar Anda, tas Anda terjatuh. Setelah memeriksa isi tas, tau-taunya dompet Anda sudah hilang.
Karena satu-satunya orang yang bersentuhan dengan Anda hanyalah orang tersebut, tentunya otomatis Anda akan menuduhnya.
Mungkin Anda akan berteriak menyebut dia pencopet, atau mungkin Anda melakukan tindak kekerasan dengan memukulinya?

Namun bagaimana ketika penelusuran dilakukan dan ternyata bukan orang tersebutlah yang melakukannya, bahkan pelakunya adalah seseorang yang justru tak pernah Anda lihat sebelumnya karena Anda tidak menyadari tindakan pencopetan yang sebenarnya telah terjadi sebelum Anda masuk di resto tersebut... Apakah Anda akan merasa menyesal telah berbuat yang tidak adil pada orang tadi, ataukah Anda akan berpikir biasa saja dan menganggap memang dia sedang apes saja, berada di tempat yang salah pada waktu yang salah?

Pembaca blog Kisah Motivasi sekalian, ketika dimana saat menyeberang jalan saja Anda diajarkan oleh orang tua untuk menengok kanan dan kiri terlebih dahulu, lalu apakah mungkin saat menjalani hidup, saat bersosialisasi dengan sesama manusia, Anda hanya melihat dari satu sudut pandang saja?

Sedangkan dengan hati dan pikiran Anda saja terkadang Anda masih bisa terkecoh sendiri, apalagi terhadap hal-hal lain dalam kehidupan, terhadap manusia-manusia lainnya.


Cara Beriman kepada Rasul Allah

Iman kepada rasul Allah artinya mempercayai bahwa Allah swt. telah mengutus rasul untuk memberikan petunjuk dan pedoman hidup kepada umat manusia agar sejahtera di dunia dan di akhirat. Rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah swt. berupa syariat tertentu dan diperintahkan untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya. Sedangkan nabi adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah tetapi tidak wajib menyampaikan kepada umatnya.

Cara Beriman kepada Rasul Allah

Ada beberapa cara beriman kepada rasul Allah, yaitu sebagai berikut.

1. Mengikuti ajarannya

Rasul diutus oleh Allah swt. untuk menyampaikan wahyu kepada manusia sehingga pada hakekatnya mengikuti ajaran rasul sama dengan mengikuti ajaran Allah swt. Rasul diutus oleh Allah untuk kepentingan umat tertentu, seperti Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad, Nabi Saleh diutus untuk kaum Samut, nabi Syu‘aib diutus untuk penduduk Madyan, Nabi Musa dan Nabi Ishak diutus untuk kaum Bani Israil. Khusus untuk Nabi Muhammad terdapat pengecualian, karena Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. untuk semua umat manusia di dunia.

Allah swt. berfirman dalam Surah al-An’am ayat 48 :
Beriman kepada Rasul Allah

Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus para rasul melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-An’am/6: 48)

2. Tidak membeda-bedakan rasul

Pada hakekatnya semua rasul adalah sama, yaitu sama-sama utusan Allah swt. sehingga kita tidak boleh membeda-bedakan antara rasul yang satu dengan rasul yang lain.

3. Meneladani perilaku para rasul dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan rasul sebagai contoh dan panutan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam Q.S. al-Ahzab/33: 21)
rasul Allah
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (Q.S. al-Ahzab/33: 21)

4. Taat dan patuh dalam menjalankan segala perintah dan larangan. Allah swt. berfirman:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (Q.S. an-Nisa’/4: 59)

Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Depdiknas