Showing posts with label Fabel. Show all posts
Showing posts with label Fabel. Show all posts

Fabel Inspiratif - Aku Ingin Warnaku Sendiri!

Kisah Fabel Inspiratif

Di Negeri Tanangkai hidup berbagai macam hewan dengan berbagai macam warnanya pula. Ada Galung, si gajah, dengan rumpun keluarganya yang berwarna abu-abu. Ada Ruki, si rusa, dengan tanduk indah dan tubuh atletisnya yang berwarna coklat. Ada Meri, si burung merpati, yang putih cemerlang. Pokoknya semua binatang memiliki warna khasnya sendiri --- Kecuali Alon, si bunglon...

Kemanapun Alon pergi, warna kulitnya pun akan ikut berubah menyesuaikan dengan tempatnya berada. Ia akan berwarna jingga saat bertengger di buah jeruk yang matang. Saat tengah bermain-main di rerumpunan bunga lavender, ia akan ikut berwarna ungu. Bahkan saat naik menunggang di pundak Zamba, si kuda zebra, kulitnya pun berubah menjadi warna belang-belang hitam dan putih.

Suatu hari karena merasa sedih, cemburu dan sangat ingin memiliki warna khasnya sendiri, Alon pun memutuskan untuk terus nangkring di atas sehelai daun. “Di atas daun yang hijau warna-ku pun akan menjadi hijau dan dengan begitu aku akan memiliki warnaku sendiri,” pikirnya riang. Dan benar saja, Leon pun melompat dan bertengger di atas sehelai daun untuk sekian lama.

Namun bulan berganti dan musim gugur pun datang. Daun yang tadinya paling hijau di antara dedaunan lainnya, kini telah berubah warna menjadi kuning. Tak pelak kulit Alon pun berubah menjadi warna kuning. Tak lama berselang daun tadi kembali berubah warna menjadi warna merah dan Alon yang masih setia nangkring di atasnya juga ikut berubah.

Musim kembali berganti dan angin musim dingin yang berhembus kuat menghempaskan daun tempat Alon bertengger dari dahannya, Alon pun ikut terbawa bersamanya. Dan di malam-malam musim dingin yang kelam mencekam, kulit Alon berubah menjadi hitam mengikuti warna daun yang kini telah gugur dan menyatu dengan tanah di dalam gelapnya malam.

Saat musim semi akhirnya datang, Alon melangkah di rerumpunan rumput yang hijau. Di sana Alon bertemu dengan seekor bunglon lainnya. Alon pun berbagi cerita dengannya. Dikisahkannyalah impiannya untuk memiliki warna khasnya sendiri dan juga perjalanan sedihnya melewati musim-musim kemarin.

“Apa kita tak akan pernah bisa memiliki warna khas kita sendiri?” tanya Alon lesu pada teman bunglonnya.

Teman bunglon Alon yang lebih tua dan tentunya lebih memiliki banyak pengalaman menjawab dengan bijak, “Sepertinya tidak.” “Tapi mengapa mencari warna khas kita sendiri padahal kita sendiri telah memiliki sesuatu yang khas dengan kulit kita yang bisa berubah-ubah warna?” lanjutnya lagi. “Dan kemarilah. Mari kita berjalan-jalan bersama. Mungkin warna kita memang akan terus berubah-ubah menyesuaikan tempat yang kita datangi, tapi kita akan selalu bersama-sama. Kita akan berbeda bersama.”

Dan kedua bunglon tadi pun terus beriringan bersama. Mereka hijau bersama. Mereka kuning bersama. Mereka merah bersama.

×××

Pesan Moral: Terkadang karena rasa cemburu terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain, kita sampai buta terhadap kelebihan kita sendiri yang mungkin memang berbeda dari yang lain. Dan tahu tidak sahabat blog Kisah Motivasi? Sebenarnya tak ada masalah jika kita berbeda dari yang lain, itu juga adalah suatu keindahan. Dan yang paling penting adalah jangan sampai kita menutup diri dari lingkungan, sebab keberadaan teman bisa membantu kita melewati titik-titik sulit dalam kehidupan.

"Berbeda itu takdir, tapi dapat melihat keindahan di dalamnya itu adalah pilihan."

Fabel Motivasi - Elang dan Kenari

Cerita Fabel Motivasi

Di sebuah pohon di tengah hutan bertenggerlah dua ekor burung dari dua keluarga berbeda.

Yang satu adalah seekor elang dengan tampang yang sangar sementara yang satunya lagi adalah seekor kenari manis. Sungguh keanehan memang melihat keduanya bertengger di satu pohon.

Namun si Elang memang sedang tak ingin berburu dan ia hanya membuka obrolan dengan cerita-ceritanya yang menyombongkan diri sebagai burung terhebat di sejagad raya.

Kenari kecil yang tak ingin memancing dan cari masalah dengan Elang yang lebih gagah darinya tentunya berusaha untuk tak membantah perkataan Elang. Namun walau begitu tak luput pula Kenari memberikan nasehat pada Elang agar tidak terlalu sombong, sebab sehebat-hebatnya dia dalam keluarga burung, masih ada lagi binatang dari keluarga lain yang lebih hebat, dan sehebat-hebatnya binatang tersebut, masih ada lagi makhluk-makhluk yang lebih hebat darinya. “Di atas langit masih ada langit,” kata Kenari meminjam istilah anak cucu Adam dan Hawa yang sering didengarnya saat lagi berkelana.

“Apa! Maksudmu, kau mau bilang bukan aku yang terhebat?” hardik Elang.

“Tentu kaulah yang terhebat, Elang...” ujar Kenari sedikit takut, “...tapi hanya di dalam keluarga unggas. Jadi alangkah baiknya jika kau tak terlalu sombong.” “Apalagi tak selamanya sesuatu itu dinilai dari seberapa kuat tenagamu atau seberapa gagah tubuhmu,” ujar Kenari lagi menambahkan.

“Lancang sekali kau, hei, Kenari kecil!” “Jangan hanya besar mulut saja kau di situ! Baiklah, aku ingin lihat apakah bualanmu tentang kekuatan tenaga dan gagahnya tubuh tak ada nilainya itu benar apa adanya. Aku tantang kau!”

“Wahai, Elang yang perkasa, sungguh tak berani aku yang kecil ini melawan dirimu...” lirih Kenari.

“Hah! Bukan hanya kecil kaupun penuh bualan rupanya, Kenari! Sudah tahu aku yang terhebat tapi masih tak mau juga kau mengakuinya!”

Terpancing dengan kesombongan Elang dan ingin menyadarkannya, akhirnya Kenari pun menerima tantangan Elang.

“Baiklah, Elang, tunjukkan kebolehanmu.” “Kau lihat anak Tupai yang sedang bersembunyi di balik semak-semak di sana itu?” ujar Kenari memulai duel mereka. “Siapa diantara kita yang berhasil membawa anak Tupai itu ke atas pohon ini, maka dialah pemenangnya. Dan jika kau memang menang, wahai Elang, maka aku akan mengakui kehebatanmu yang tiada taranya.”

“Hahahaha...” sontak Elang terbahak-bahak mendengar tantangan Kenari. “Kau menantangku siapa yang berhasil membawa anak Tupai itu ke atas pohon? Kau ini gila atau bodoh?” cibir Elang. “Dengan badanmu sekecil itu, mana mampu kau mengalahkanku!”

Dimulailah duel mereka dengan Elang yang mencoba lebih dahulu untuk menangkap si anak Tupai. 

Dari atas Elang menukik dengan tajam mencoba menerkam anak Tupai, namun anak Tupai yang cukup cekatan ini mampu menghindari terkaman Elang. Ia berhasil sembunyi lebih jauh ke dalam semak-semak. Dengan suara lantangnya yang menyeramkan, Elang berkoak-koak mencoba menakuti anak Tupai agar dia keluar dari tempat persembunyiannya. Dia gagal, si anak Tupai tertegun takut di persembunyiannya dan tak berani bergerak sedikit pun.

Elang mencoba menyibak semak-semak agar bisa masuk dan menerkam anak Tupai tersebut, namun semak-semaknya terlalu lebat, semakin Elang mencoba menerjang masuk semakin tubuhnya justru terluka akibat goresan dahan. Setelah hampir dua jam tanpa hasil dan hanya kelelahan yang didapatnya, akhirnya Elang pun kembali ke pohon tempat Kenari menunggu.

“Tupai itu terlalu penakut! Memanfaatkan alam untuk melindunginya,” ujar Elang kesal dan Kenari hanya tersenyum-senyum mendengarnya.

“Kau lihat, Elang, bahkan anak Tupai kecil pun mampu mengecohmu. Tak selamanya semua dinilai dari kekuat―”

“Tutup mulutmu, Kenari! Coba kau sendiri melakukannya, jika aku saja tak sanggup apalagi dirimu!” “Hah! Ingin melucu kau rupanya...” hardik Elang.

“Baiklah, baiklah, wahai Elang. Aku akan pergi mencobanya sekarang,” ujar Kenari sembari terbang pelan meninggalkan Elang,

Kenari hinggap di atas dahan pohon yang tak jauh dari semak-semak tempat anak Tupai terlihat terakhir bersembunyi. Dari atas Kenari mencoba memperhatikan ke semak-semak mencari si anak Tupai, dan benar saja... dilihatnya anak Tupai sedang mengintip-intip keadaan di luar, rupanya ia sedang mencari tahu apakah Elang masih ada di luar ataukah sudah pergi.

Kenari pun mulai bersiul melantunkan nyanyiannya. Ia mencoba menarik perhatian anak Tupai dengan kemerduan suaranya.

Dari dalam semak-semak, anak Tupai bisa mendengarkan dengan jelas kicauan Kenari yang memang indah. “Suara apa itu? Indah sekali...” tanya Tupai penasaran. Ia pun semakin mendengarkan kicauan Kenari dengan seksama dan lambat laun iapun jadi terbuai dan terhipnotis karenanya.

Perlahan-lahan anak Tupai berjalan keluar dari persembunyiannya mencoba mencari asal suara indah itu. Ia sangat penasaran sekali rupanya!

Kenari yang memang terus memperhatikan si anak Tupai mulai tersenyum melihat pancingannya ternyata berhasil. Si anak Tupai yang tadinya takut dengan koaran suara Elang yang memekakkan telinga, kini telah terbuai dengan kicauan merdu Kenari dan telah keluar dari persembunyiannya.

Kenari terus menyanyikan lantunan nadanya sembari berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk terus memancing anak Tupai yang masih saja penasaran mencoba mencari asal suara indah yang didengarnya. Sampai akhirnya tiba juga Kenari di pohon tempat Elang menunggunya dengan gelisah.

Rupanya Elang dari jauh juga memperhatikan bahwa usaha Kenari ternyata membuahkan hasil. Dengan kicauan lembut nan indah Kenari, anak Tupai justru datang dengan sendirinya. Dengan tanggapnya anak Tupai memanjat pohon tempat Kenari dan Elang bertengger, dan dengan kemunculan anak Tupai di atas pohon otomatis Kenari lah yang memenangkan tantangan ini. Si anak Tupai yang tak tahu apa-apa, kebingungan mendapati Kenari tersenyum puas sementara di sisinya Elang memasang tampang kesal dan marah!

×××

Suara lantang membahana, fisik yang besar kuat menakutkan... Terkadang bukan itulah yang mampu membantu kita untuk menaklukkan lingkungan di sekitar.

Kejelian dalam melihat peluang... Kecerdasan berpikir untuk memlih celah keputusan terbaik yang bisa kita pilih... Kelihaian memanfaatkan segala kelebihan dan kekurangan kita sebagai penyokong dalam membantu kita melewati lika-liku perjalanan dan persaingan hidup... Itulah arti kehebatan yang sebenarnya.
Kuat adalah otak bukan fisik. Otak mampu mengendalikan dan menguatkan fisik lemah sekalipun. Namun fisik sekuat apapun, belum tentu mampu menguatkan otak.

Fabel Motivasi - Elang dan Kenari © Copyright Kisah Motivasi

Fabel Motivasi - Ming Ming si Kolibri Petualang

Fabel Motivasi - Ming Ming si Kolibri Petualang


Ming Ming adalah seekor anak burung kolibri. Ia gemar sekali bertualang. Ming Ming yang hanya diasuh oleh induk betinanya ini, seringkali tak mendengarkan petuah induknya yang melarang dirinya pergi terlalu jauh dari sarang karena ia masihlah sangat muda sementara di luar sana ada begitu banyak bahaya yang mengancam.

“Tapi, Ibu, aku hanya ingin menyesap madu bunga-bunga nan indah di ladang bunga seberang hutan,” ujar Ming Ming memberi alasan pada induknya. “Di daerah dekat sarang kita tidak ada bunga-bunga seindah ladang bunga di sana.”

“Iya, Nak, tapi tunggulah kau besar sedikit,” induk Ming Ming berujar lembut sembari menyapu sayang kepala anaknya itu. “Ibu hanya khawatir karena seringkali terlihat putra Adam dan putri Hawa mendatangi tempat tersebut. Bagaimana jika mereka menangkapmu?”

Ming Ming akhirnya hanya diam saja jika diberi jawaban seperti itu oleh induknya.

Tapi jangan salah... Bukan Ming Ming namanya jika ia akan begitu saja menurut petuah induknya. Ia sudah terlanjur menyukai petualangan kecilnya ke ladang bunga seberang hutan. Itu karena di sana memang terdapat bunga-bunga yang memekar nan indah, tentunya madu yang disesap oleh Ming Ming pun juga sangatlah manis. Karena itulah ia suka. Ming Ming memang menggemari manisnya madu.

“Nantilah ketika Ibu sedang lengah baru aku pergi ke sana lagi,” bisik Ming Ming dalam hati.

Dan benar saja, ketika induknya sedang sibuk melakukan pekerjaannya, Ming Ming langsung mengambil ancang-ancang untuk terbang memulai petualangannya ke ladang bunga indah. Sepanjang perjalanan menuju ke sana Ming Ming sudah membayangkan rasa manis bunga-bunga yang tumbuh indah di ladang bunga yang akan disesapnya nanti. “Hmm... Srrrp, manisnya,” liurnya bahkan sampai menetes membayangkannya.

Tidak tunggu lama, selepas Ming Ming sampai di ladang bunga, ia langsung terbang ke sana ke mari menghampiri bunga-bunga indah untuk disesapi madunya. Beberapa puluh menit Ming Ming  tenggelam dalam aktivitasnya yang mengasyikkan itu.

“Akan kusesapi madu-madu kalian semua, wahai bunga-bunga indah,” seru Ming Ming dengan riang.

Tapi celakalah bagi Ming Ming, saking asyiknya menyesap madu, ia tidak menyadari ternyata ada seorang putra Adam yang terus memperhatikannya. Bulu Ming Ming yang memang sangat cantik membuat dia berniat menangkap Ming Ming si Kolibri Petualang itu. Dan dengan Ming Ming yang tidak memperhatikan sekelilingnya, tidaklah sulit untuk menangkapnya.

Haph!

Ming Ming masuk dalam perangkap. Ming Ming terkejut mendapati dirinya telah berada di dalam jaring perangkap. Ia meronta menggeliat, namun jaring tersebut terlalu kuat untuk bisa diterobosnya.

“Matilah aku,” cerocosnya mulai menyesali kenakalannya tidak mengindahkan petuah induknya. “Ibu, Ibu, tolonglah aku, Ibu. Akan diapakan aku nanti, Ibu?” jeritnya lara.

Ming Ming terus merasa khawatir, bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dirinya setelah tertangkap oleh pria itu.

Tapi rupanya pria itu hanyalah seseorang yang gemar memelihara burung-burung liar. Di rumahnya terdapat berbagai macam burung di dalam sangkar-sangkar. Ming Ming dimasukkan ke dalam salah satu sangkar tersebut. Tak lupa pria itu juga mencarikan madu untuk diberi ke tempat makan burung kolibri, tentunya agar Ming Ming merasa betah.

Dan, ya, tentu saja... Ming Ming berkicau riang karena rupanya ia hanya akan dipelihara dan bukan dibunuh. Belum lagi ia juga diberi madu-madu yang rasanya luar biasa manis. “Wah, enaknya hidupku,” pikirnya polos.

Satu, dua, tiga hari dilaluinya dengan riang. Makan, tidur, dan kadang juga mengobrol dengan burung-burung tetangga sangkarnya.

Tapi memasuki bulan ke dua ia tinggal di rumah barunya, Ming Ming akhirnya merasa jenuh.

“Wahai kalian kawanku para burung, tidakkah kalian bosan tinggal di sini?” tanyanya.

“Tidak juga,” balas Nunu, burung nuri tetangga sangkar sebelah kiri Ming Ming, "Aku sudah sekian lama berada dalam sangkar ini.

“Aku juga tidak. Setiap hari hanya tinggal makan dan tidur yang disediakan oleh putra Adam itu, bagaimana mungkin aku bosan?” tambah si Layang, yang sangkarnya tepat di hadapan sangkar Ming Ming, turut membenarkan perkataan Nuri.

“Justru itu, aku bosan setiap hari hanya tinggal menerima apa yang diberikan padaku,” ujar Ming Ming lemas setelah mendengar jawaban kawannya sesama burung dalam sangkar, “Aku rindu melakukan petualangan kecilku terbang ke sana ke mari menghampiri bunga-bunga. Aku juga sangat merindukan indukku.”

Beberapa hari kemudian dihabisi Ming Ming dalam kegelisahan. Tidak lagi terdengar kicauan riang darinya. 

“Aku ingin pulang. Keluar dari sini...” lirihnya.

Dan Ming Ming akhirnya membulatkan tekad. Pokoknya bagaimanapun caranya ia harus keluar dari sangkarnya dan kembali ke sarangnya.

Ia mencari-cari kesempatan ketika pria tersebut lengah dalam mengunci sangkarnya. Dengan sabar dinantikannya saat tersebut, walau bulan demi bulan berlalu. Tidak dipedulikannya celotehan burung-burung lain yang menyuruhnya mengurungkan niat ataupun mencibirnya karena terlalu tinggi bermimpi.

“Sudahlah, lupakan saja keinginanmu, kolibri kecil,” cibir Koko, si kakatua, “Untuk apa kau meninggalkan tempat yang sudah memberikanmu kemudahan ini?”

“Benar. Lagipula bagaimana kau akan bisa keluar dari sangkarmu? Sangkar itu terpasang kokoh,” tambah Layang.

“Aku tahu itu. Tapi entah kenapa, batinku tidak bisa membenarkan diriku yang terus-menerus hanya menerima segala sesuatunya tanpa berbuat apapun,” jawab Ming Ming.

Dan akhirnya suatu hari, putra Adam lupa mengunci sangkar Ming Ming setelah membersihkan sangkar tersebut. Ming Ming pun tidak menunda-nunda memanfaatkan kesempatan yang telah lama dinantikannya tersebut. Ia langsung keluar dari sangkar kecilnya berusaha kembali menuju alam bebas. Tak lupa diajaknya pula kawan-kawannya sesama burung yang lain, ia mencoba membantu membukakan kunci sangkar mereka. Tapi rupanya mereka tidak ingin beranjak pergi ke manapun.

“Pergilah kau, kolibri kecil, jika kau memang hendak pergi. Kami tidak akan meninggalkan tempat ini. Di luar sana lebih banyak bahaya-bahaya yang justru mengancam kelangsungan hidup kami daripada tinggal di tempat ini,” Koko mewakili burung-burung lainnya memberi jawaban yang membuat Ming Ming geleng-geleng kecewa.

Ming Ming pun terbang meninggalkan tempat yang telah mengurungnya selama berbulan-bulan. Ia berusaha mencari-cari jalannya untuk bisa pulang kembali ke sarangnya tempat ia tinggal bersama induknya. Untuk beberapa lama ia hanya berputar-putar di daerah yang sangat asing baginya, ia nyaris menyerah dan mulai menyesali keputusannya meninggalkan tempat putra Adam tersebut. Tapi kemudian ia kembali mendengarkan kata-kata batinnya yang menolak untuk hidup dengan terus menerus disuapi segala sesuatunya. 

“Itu bukanlah hidup,” pikirnya dalam hati. “Aku merasa hidup ketika aku melakukan petualangan-petualangan kecilku. Tak mengetahui apa yang akan aku temui di jalan di depanku, tapi aku terus saja berjalan, karena senang rasanya ketika yang aku temukan adalah sesuatu yang luar biasa misalnya saat aku menemukan ladang bunga nan indah itu. Ataupun ketika aku menemukan sesuatu yang mengerikan misalnya tertangkap oleh putra Adam kala itu, dan aku bisa memetik pelajaran untuk tak selalu lupa awas diri ketika berada di alam bebas,” lanjut Ming Ming menyemangati dirinya.

Dengan semangat yang kembali membanjiri dirinya, Ming Ming, si kolibri petualang, menghabiskan sisa hidupnya dengan terus mencari jalan pulang menuju sangkarnya. Walaupun sangkar tempatnya dulu tinggal bersama induknya tidak ia temukan sampai akhir hayatnya, Ming Ming tidak pernah putus semangat. Ia tidak terus menerus menengok ke belakang meratapi kesalahannya yang tidak mengindahkan petuah induknya hingga akhirnya mereka terpisah. Oh, dia menyesalinya, sungguh sangat menyesalinya. Tapi ia tidak terpuruk meratapinya dan membiarkan rasa penyesalan tersebut mengaburkan masa depan lebih cerah yang bisa direngkuhnya.

Ming Ming menghabiskan sisa hidupnya dengan terus melakukan petualangan-petualangannya. Ia tidak takut akan petualangan meskipun pernah tersandung karenanya. Ia pun bertemu dengan beragam macam makhluk hidup lainnya yang banyak mengajarkannya tentang hidup. Ia juga bertemu dengan kolibri-kolibri lain dan bahkan ia pun memiliki bayi-bayi kolibri miliknya sendiri yang ia asuh penuh suka cita dan ia ajarkan tentang kehidupan di alam raya ini.

Fakta kolibri:
    »Kolibri adalah burung yang bersedia makan dari alat pemberi makan burung kolibri, namun mereka tidak selamanya ingin menerima begitu saja makanan tersebut. Mereka akan ingin untuk menyesap sendiri madu-madu dari bunga-bunga yang mereka hampiri.
    »Kolibri tidak membaca buku tuntunan hidup tentang apa yang mesti mereka kerjakan, mereka hanya  terdorong untuk mengerjakan apa yang mereka inginkan.

Hikmah cerita:
    »Kita sebagai manusia, janganlah mau hanya menerima apa yang telah dicecarkan kepada kita. Seperti pelajaran dari kolibri kecil yang bisa kita petik melalui fabel di atas: 
    “Hidup adalah ketika kita melakukan berbagai petualangan. Tak mengetahui apa yang akan kita temui di depan jalan, tapi kita terus saja berjalan. Memetik kebahagiaan ketika yang kita temui adalah hal-hal indah. Memetik pelajaran ketika yang kita temui adalah halang rintang. Namun yang menjadi intinya adalah, hiduplah dengan berjalan dengan kaki sendiri bukan dengan dijunjung oleh orang lain. Jangan takut kaki Anda tersandung ketika berjalan sendiri, justru saat lagi dijunjung orang dan Anda terjatuh, maka sakitnya lebih bukan kepalang.”

Fabel - Renungan Kisah Pencuri Kecil


Tak ada salahnya belajar dari orang lain. Apalagi bila ada seseorang yang belajar dari kita, awamnya manusia pasti akan merasa bangga. Namun perlu diketahui menjadi sosok panutan itu tidak mudah. Adalah sangat penting dalam menjaga segala tingkah laku (baik itu perbuatan yang kita lakukan maupun hal-hal yang kita percayai) di hadapan orang lain. Berikut Kisah Motivasi akan hadirkan sebuah fabel motivasi dan semoga kita bisa memetik sebuah pelajaran berharga.

Dongeng:

Di sebuah hutan rimba terdapat sebuah kota hewan yang dihuni oleh berbagai macam hewan-hewan. Kota kecil itu begitu tenteram, namun ada satu peraturan penting yang bila dilanggar maka hukumannya sangat berat. Yaitu mereka tidak boleh mencuri terhadap sesama penghuni kota.

Hingga suatu hari ada seekor kancil muda yang tertangkap oleh anjing penjaga saat dia hendak melancarkan aksi pencuriannya. Dia pun dibawa ke tengah hutan untuk menerima hukuman dari Raja Hutan, namun ketika hendak diadili, dia meminta untuk dipertemukan terlebih dahulu dengan ibunya. Permintaan ini disetujui.

Ibu kancil pun segera dipanggil, dan ketika sang ibu telah datang, kancil muda berkata: "Ibu, aku ingin membisikkan sesuatu." Ibu Kancil pun mengikuti permintaan anaknya dan berjalan mendekatinya. Ketika telinga ibunya telah begitu dekat dengan mulutnya, tiba-tiba kancil muda ini menggigit telinga ibunya.

Binatang-binatang yang ikut menyaksikan kejadian menjadi terkejut, dan bertanya pada si kancil muda alasan dia tega melakukan perbuatan tersebut pada ibunya.

"Ini hukuman untuknya," jawab kancil muda dengan enteng. "Saat aku masih kecil dulu, dan mulai mencuri beberapa barang kecil, aku membawanya pulang dan menunjukkannya pada ibuku. Tetapi dia sama sekali tidak mengomeli atau menghukumku, dia hanya tertawa dan berkata bahwa takkan ada yang menyadari perbuatanku. Dan karena dialah aku berdiri disini saat ini."

***

Bisa anda bayangkan bagaimana seandainya anda yang sebagai orangtua melihat anak anda berakhir seperti itu?Seandainya anak kita berbuat sebuah kesalahan, mungkin kira-kira kita akan berkata "Kenapa dia bisa berbuat seperti itu?", "Darimana dia belajar melakukan hal buruk seperti itu?".

Namun bagaimana bila jawaban dari pertanyaan terakhir yang saya tanyakan itu adalah anda sendiri sebagai orangtuanya. Punya bayangan apa yang akan anda katakan pada diri sendiri?

Banyak yang mengatakan anak itu bagaikan sebuah kanvas putih, dengan begitu mudah kita dapat meninggalkan jejak lukisan apa saja. Anak itu memiliki hati pikiran yang masih bersih dan bagaikan sebuah sepon, yang begitu mudah menyerap apa saja hal-hal pertama yang diketahuinya.

Seorang teladan yang baik sangatlah penting. Dimana dia menunjukkan kita arah dan tujuan yang benar. Menginspirasi kita untuk mencapai impian, dan ketika situasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, dia ada untuk berbagi pikiran bagaimana cara mengatasi jalan buntu ini.Dan selama kita berada dalam posisi sebagai seseorang yang memiliki pengaruh terhadap orang lain, entah itu kita sebagai orang tua terhadap anak, atau atasan terhadap bawahan, kita haruslah berhati-hati. Ingatlah kita akan selalu saja di awasi.

Namun betapa ironis terkadang pemimpin itu sendiri meremehkan pengaruh yang mereka miliki terhadap pengikut dan bawahan mereka. Terkadang orangtua tidak menyadari bagaimana perilaku mereka sendiri berpengaruh terhadap perkembangan anak masing-masing.

Quote:
Anak-anak itu seperti halnya semen yang basah. Apapun yang terjatuh di atasnya akan meninggalkan jejak. - Dr. Haim Ginott


Fabel - Renungan Kisah Pencuri Kecil  oleh Kisah Motivasi

Fabel - Cinta Sejati

Cerita Cinta

Setelah cukup lama blog ini tidak aktif, kembali lagi saya akan mencoba untuk menghadirkan kisah motivasi dan inspiratif untuk kawan-kawan semua.

Beberapa hari yang lalu saya telah mem-posting beberapa kisah saduran. Dan kali ini saya akan menulis kisah lainnya.

Hmm, yuk kita sedikit berdongeng... berbicara tentang cinta...

Saya pernah bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah di dunia ini yang namanya cinta sejati itu ada?
Sejoli yang saling mencintai, bersedia melakukan apa saja untuk orang yang mereka cintai bukan karena ingin mengharapkan balasan cinta yang sama dari pasangannya. Melainkan karena ia tahu, inilah yang terbaik yang bisa ia berikan untuk kekasih yang disayanginya.

---

Di suatu masa terkisahlah sepasang merpati Geon dan Merri yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Masa muda mereka penuh dengan asmara yang menggebu-gebu, hingga keduanya tak dapat terpisahkan lagi. Menjelajahi langit biru bersama-sama, menapaki langkah-langkah kecil mereka di rimbunnya pepohonan.

Sepasang merpati yang menyayangi, tumbuh dewasa, melewatkan masa-masa indah bersama.

Namun pada suatu ketika, Merri si merpati betina mengalami kecelakaan saat ia terbang dan terjatuh dengan kepala lebih dahulu membentur tanah. Meskipun nyawanya masih bisa diselamatkan namun Merri terluka sangat parah.

Geon yang begitu sangat mencintai pasangannya ini, tak sedikitpun pernah meninggalkan sisi Merri. Dirawatnya dengan penuh cinta kasih, berharap suatu saat kekasihnya bisa kembali membuka mata, menemani dirinya bersenda gurau, mengarungi masa tua hingga maut memanggil dalam tidur yang tenang di rumah kecil mereka.

Tiap hari dia berdoa untuk kesembuhan Merri, asalkan kekasihnya bisa sembuh ia rela melakukan apa saja.

Tak disangka, Merri akhirnya kembali sadar. Betapa bahagianya Geon mengetahui hal ini. Tak di pedulikannya apapun yang terjadi, ia terus mengucap syukur, bersenandung riang meskipun ia tahu ketika Merri kembali tersadar dari sakitnya, ada sesuatu yang kini telah berbeda pada merpati betina itu.

Tahun berlalu...

Suatu hari dikala Geon tengah dalam perjalanan ke rumah, sayapnya tergores ranting pohon, hingga ia harus berobat. Setibanya di tempat dokter Owlie, ternyata ruangan praktek si burung hantu ini penuh dengan pasien-pasien lainnya. Beberapa perawat terlihat melayani antrian pasien. Geon melirik jam dinding yang terpasang di tiang kayu dekat tempatnya berdiri. Jam setengah satu.

'Sebentar lagi waktu makan siang' pikirnya. Namun kesibukan masih saja berlanjut di ruangan itu.

Seorang perawat yang baru saja selesai memasang perban di kaki salah satu pasien, memperhatikan tingkah laku Geon yang terlihat gelisah.

"Tuan, bisakah saya mencoba memeriksa luka anda?" sapanya pada Geon.

Seketika wajah merpati itu menjadi cerah. Dan perawat itu pun mulai memeriksa keadaan sayap Geon yang ternyata tidak begitu parah, hanya perlu sedikit diberi pengobatan.

Perawat yang kini mulai memasang perban mencoba memulai percakapan.

"Anda terlihat sangat gelisah, Tuan. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?"

"Oh, sesungguhnya tak ada yang tengah menggangguku. Hanya saja aku memang tengah mengejar waktu." jawab Geon.

"Sebuah pertemuan penting rupanya menunggu anda?" tanya si perawat lagi.

Diceritakanlah tentang keadaan istrinya, Merri, yang sampai hari ini kondisinya belum juga pulih total semenjak kecelakaan bertahun-tahun yang lalu hingga ia masih harus terus dirawat di pondok perawatan hewan.

"Dan setiap hari aku menjenguknya untuk menemani istriku makan siang." tambah Geon pelan.

Perawat yang masih muda ini memandang Geon dengan pandangan kagum. "Begitu rupanya...", "... tapi apakah istri anda akan merasa sangat kecewa apabila untuk kali ini saja anda tidak datang menjenguknya?"

Geon menggeleng pelan sembari mencoba mengepak-ngepakkan sayapnya yang kini telah terbalut perban putih.

"Merri tidak lagi mengenaliku... Kecelakaan itu mengakibatkan fungsi otaknya melemah, tak tersimpan sedikitpun memori tentang diriku atau bahkan lingkungan sekitarnya. Saat ini benaknya bagaikan sebuah ruang kosong...", "... begitulah kata dokter yang menangani kasus Merri."

Penuh rasa terkejut si perawat kembali melontarkan pertanyaan, "Dan meskipun begitu anda tetap setia mendampingi dan mengunjunginya meskipun beliau tidak lagi mengingat tentang anda?"

"Merri, mungkin tidak lagi mengenal siapa diriku ini. Tapi aku tetap mengenalinya sebagai kekasih yang sangat aku cintai..." dengan tersenyum Geon mengucapkan terima kasih untuk perawatan yang di dapatnya, dan dia pun pamit meninggalkan si perawat yang tak lagi hanya memandang Geon penuh rasa kagum, melainkan takjub dengan besarnya cinta kasih yang dimiliki Geon.

Sosok merpati cinta...

---

Tapi bukankah cerita di atas hanyalah sebuah fabel? Dongeng belaka yang bisa dituliskan oleh siapapun. Sama sekali tak bisa dijadikan contoh untuk kita dong.

Baiklah... :)

Kalo begitu bagaimana dengan kisah cinta Bapak B.J. Habibie kepada almarhumah istrinya Ibu Ainun?

Kisah cinta fenomenal dimana seorang pria yang tak pernah meninggalkan sisi sang istri dimasa sakitnya. Tetap setia mendampingi Bu Ainun melawan sakit yang dideranya.
Seorang suami yang mengantarkan kepergian sang istri tercinta menghadap Khalik dengan kata-kata indahnya

“Saya dilahirkan untuk ibu Ainun, dan ibu Ainun dilahirkan untuk saya,”

Akankah kita juga menemukan cinta sejati seperti ini?


Fabel - Belajar Dari si Buster

Cerita Motivasi


Terkisahlah dua ekor anjing scottie muda yang bersahabat, Buster dan Didi. Kemana pun mereka pergi selalu bersama dan ada saja petualangan yang mereka lalui setiap harinya. Namun meskipun begitu, kedua sahabat itu sangatlah bertolak belakang kepribadiannya. Buster adalah sosok anjing yang penuh dengan semangat dan selalu berani menghadapi rintangan apapun, sementara sahabatnya Didi sedikit lebih pendiam dan selalu ragu dalam bertindak.

Suatu hari di Kota Binatang diadakanlah perlombaan adu bakat untuk para anjing-anjing. Dan pemenangnya selain akan dikukuhkan sebagai anjing terbaik di kota akan pula dihadiahkan stok tulang selama setahun. Seluruh anjing penghuni kota menjadi tergiur untuk ikut ambil serta dalam perlombaan tersebut, tak terkecuali Buster muda.

Buster pun mengajak sahabatnya, Didi, untuk ikut perlombaan. Namun belum saja mereka mendaftar, Didi telah merasa gentar terlebih dahulu setelah mengetahui ternyata anjing-anjing yang akan menjadi lawan mereka bukanlah sekedar anjing geladak biasa, melainkan anjing-anjing juara yang lebih memiliki banyak pengalaman, bahkan konon berita yang mereka dapatkan beberapa anjing ras collie dan rottweiller juga akan ikut ambil bagian. Tak urung nyali Didi semakin ciut, dalam pikirannya bagaimana mungkin anjing kecil seperti dirinya bisa menang melawan para raksasa-raksasa anjing tersebut, bisa-bisa nanti justru dirinya jadi bulan-bulanan anjing-anjing tersebut.

Sementara sahabatnya, Buster, yang tak pernah mengenal kata menyerah tentunya tetap mendaftarkan diri dalam perlombaan tersebut. Buster masih mencoba untuk membujuk Didi, diberitahunya pada Didi bahwa tak ada salahnya mereka mencoba, urusan menang atau kalah itu hal belakangan. Tapi Didi tetap kukuh pada pendiriannya.

Tak terasa waktu perlombaan itu pun akhirnya tiba. Rupanya banyak juga peserta yang turut berlomba.

Perlombaan dibagi dalam tiga babak. Babak ‘Uji Nyali’, babak ‘Ketangkasan’, dan babak ‘Kecepatan’.

Babak pertama pun dimulai, para peserta diharuskan untuk mengambil masing-masing 3 buah tulang emas yang dipersiapkan panitia dan ditaruh di tempat-tempat yang cukup berbahaya. Satu tulang ditaruh di bebatuan yang berada di tengah-tengah sungai di dekat air terjun, tentu hal yang sangat sulit dilakukan mengingat arus sungai yang sangat deras. Tulang yang kedua diletakkan di puncak sebuah bukit namun untuk mendapatkannya para peserta mesti melewati jalanan di lereng yang terjal, sedikit saja mereka salah melangkah maka jurang telah menanti mereka jauh di bawah. Sementara tulang yang terakhir berada di dalam sebuah gua yang katanya ada begitu banyak ular berbisa yang menempati tempat tersebut.

Beberapa anjing-anjing collie dan rottweiller dengan cukup mudah melewati rintangan-rintangan itu. Walau begitu beberapa ada yang gagal dan terhanyut di sungai atau menderita luka-luka karena terjatuh di jurang sementara ada pula yang karena tak berani menghadapi ular berbisa akhirnya menolak memasuki gua yang gelap itu.

Sementara Buster sendiri pun cukup kepayahan melewati babak pertama ini. Ia sempat terseret arus walau akhirnya berhasil menyelamatkan diri dengan buru-buru melompat ke atas sebuah batu. Namun sayangnya Buster hanya berhasil membawa dua buah tulang emas. Sementara tulang yang ketiga tak berhasil di dapatnya karena ketika hendak mengambil tulang tersebut tiba-tiba seekor ular jenis python membelit tubuhnya, dia hampir saja menjadi santapan ular tersebut kalau saja dia dengan cukup cerdik berhasil meloloskan diri.

Namun meskipun begitu, Buster tetap lolos untuk maju dalam babak selanjutnya. Pada babak kedua, babak ‘Ketangkasan’, Buster yang memang cukup cerdas berhasil memperoleh skor tertinggi dan melangkah dengan mudah menuju babak terakhir.

Sahabatnya Didi terus setia menyaksikan perlombaan dan mendukung Buster. Walau Ia merasa ngeri saat menyaksikan perlombaan pada babak pertama, namun terbersit sedikit rasa sesal di hatinya karena tak ikut mendaftarkan diri. Ditatapnya Buster yang tersenyum karena berhasil mengalahkan para anjing-anjing raksasa tersebut di babak kedua. ‘Bisa saja akulah yang berdiri disana dengan senyum menghiasi wajah’ lirihnya.

Setelah peserta yang tersisa diberi waktu 30 menit untuk istirahat, akhirnya tibalah babak terakhir, babak penentuan.

Seluruh peserta yang kini hanya tersisa lima ekor terdiri dari Buster, Sebas (seekor anjing Collie), Ruffy dan Rockie yang merupakan anjing ras Rottweiller dan satu lagi Spotty (anjing jenis Dalmatian), akan melakukan perlombaan lari melintasi lapangan rumput disisi luar kota dan kemudian mereka akan melewati sebuah bukit kecil lalu kembali melintasi sungai menuju hutan untuk kembali ke kota.

Dan siapapun yang tiba terlebih dahulu dialah yang akan keluar menjadi pemenang dan berhak untuk mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan. Peluit dibunyikan dan peserta mulai berlari sekencang yang mereka bisa. Dengan mudah Rockie, anjing yang memang sudah terkenal dengan segala kelebihannya, berhasil mengungguli peserta lainnya. Perlombaan berlangsung cukup seru, keempat anjing raksasa Sebas, Ruffy, Rockie dan Spottie saling bersaing merebut posisi pertama. Sementara Buster sendiri, cukup kesulitan mengejar empat anjing lainnya. Ia sudah mengerahkan segala tenaganya untuk mengejar, namun sepertinya mereka semua memang bukan tandingan Buster.

Dan akhirnya seperti yang telah diperkirakan para penduduk Kota Binatang, Rockie-lah yang akhirnya berhasil memenangkan pertandingan.

Buster yang finish di urutan terakhir, sesaat merasa begitu kecewa saat melihat Rockie yang naik ke atas podium.

“Aksi yang kamu tunjukkan dalam perlombaan ini sangatlah menarik anjing muda, aku sangat menikmatinya.” ujar seekor anjing tua.

Dan Buster pun tersenyum bangga melupakan rasa kecewa terhadap kekalahannya.



Pesan moral:

Terkadang karena rasa takut berlebihan yang telah meliputi pikiran kita tentang sebuah kegagalan, kita malah tak jarang justru melepas sebuah kesempatan yang ada di depan mata. Seperti halnya yang terjadi pada Didi, si anjing kecil. Pikiran negatif yang menguasai dirinya justru mengaburkan pandangannya akan semua kelebihan-kelebihan yang sebenarnya dimilikinya. Dan apa yang tersisa? Tentu hanyalah penyesalan.

Maka baiklah jika kiranya kita bisa seperti Buster muda, yang di dalam kamusnya tak ada kata menyerah sebelum mencoba. Tiada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dan jika kita ingin berhasil tentulah kita harus melakukan aksi. Walaupun ternyata kita akhirnya gagal, tapi itu jauh lebih baik daripada kita tidak melakukan sesuatu apapun.


Kata Motivasi:
Anda mungkin akan kecewa apabila Anda gagal, tapi celakalah Anda apabila Anda tidak berani mencoba. - Beverly Sills

Fabel - Kisah Seekor Belalang


Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.


Bahan Renungan :

Sebagai manusia, tanpa sadar, mungkin kita pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Motivational Quote:
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.


Fabel - Kisah Seekor Belalang oleh Kisah Motivasi

Fabel - Masa Depan Anda


"Masa depan Anda, karir Anda, serta kehidupan Anda adalah yang Anda kerjakan hari ini."
Seekor anak monyet bersiap-siap melakukan perjalanan jauh. Ia telah bosan dengan hutan tempatnya tinggal. Kabar yang terdengar olehnya di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut "belantara" di mana ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih "baik". "Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!" katanya. Ayah dan Ibu monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya. "Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri," kata sang Ayah kepada Ibu dengan bijak.
Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari "belantara" yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kaum Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya. Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, "Ayah, Ibu, aku tidak menemukan belantara seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama belantara." "Malah, mereka mentertawakanku." sambungnya sedih. Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. "Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana," lanjutnya, "Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai belantara itu adalah hutan yang kita tinggali ini! Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di belantara itu!" Benar, anakku.
Terkadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata." Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang "jauh-jauh" yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang. Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan sekarang, karena hal ini akan terpengaruh terhadap masa depan Anda.

Fabel - Masa Depan Anda oleh  Kisah Motivasi

Fabel - Kisah Kelinci

Kisah Motivasi kali ini akan mengisahkan sebuah fabel tentang seekor kelinci.

Seekor kelinci yang sedang duduk santai di tepi pantai, tiba tiba dihampiri oleh seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya. Lalu Kelinci berkata : "Seandainya kamu memang berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Rubah itupun merasa tertantang, "Dimanapun tidak menjadi soal. Mana mungkin kelinci bisa menang melawan saya?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang Kelinci keluar sambil menggenggam paha rubah dan melahapnya dengan nikmat. Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai.


Tiba tiba datang seekor serigala besar yang hendak memangsanya. Lalu Kelinci berkata : "Seandainya kamu memang berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sama halnya seperti rubah tadi, serigala merasa tertantang, "Dimanapun tidak menjadi soal. Mana mungkin kelinci bisa menang melawan saya?" Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam paha serigala dan melahapnya dengan nikmat. Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir. Tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata :"Seandainya kamu memang berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang Beruang merasa tertantang, "Dimanapun tidak menjadi soal. Mana mungkin kelinci bisa menang melawan saya?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang Kelinci keluar sambil menggenggam paha beruang dan melahapnya dengan nikmat. Nyiur melambai lambai, lembayung senja telah memburat, habis sudah waktu bersantai, sang Kelinci melongok ke dalam lubang kelinci, sambil melambai "Hei, keluarlah, hari sudah sore. Besok kita lanjutkan lagi!" Keluarlah seekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Seraya menguap kekenyangan Harimau berkata "Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang. Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."

Fabel Motivasi - Rekor Lompatan Belalang


Kesempatan kali ini Catatan Motivasi akan mengisahkan sebuah fabel motivasi tentang seekor belalang.

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah merupakan belalang dengan lompatan tertinggi di antara para keluarga belalang. Ia sangat membanggakan kemampuannya tersebut. Sehari-harinya ia melompat dari tanah lalu hinggap ke dahan-dahan pohon yang tinggi untuk memakan dedaunannya. Suatu hari dari atas pohon tersebut, ia memandangi satu desa nun jauh yang kelihatannya indah dan sejuk. Satu keinginan terbersit di hatinya untuk suatu hari melakukan perjalanan ke sana.

Dan datanglah hari yang dinantikannya. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan luapan semangat, kedua sahabat itu pergi bersama. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar.

Belalang muda pun bertanya kepada anjing, “Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini,” jawab anjing dengan congkak.

Mendengar perkataan si anjing, hati belalang muda jadi panas. Dia lalu berkata lagi, “Oh ho..., tidak semua binatang bisa kamu kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang lompatannya paling tinggi diantara kita.”

“Baik,” jawab si anjing. “Ada pagar tinggi di depan sana. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut.”

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Si anjing yang mendapat kesempatan pertama melakukan lompatan. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut. Berikutnya giliran si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun, ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Ia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata tetap gagal.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan seraya tertawa berkata, “Wahai, belalang, kini apa lagi yang mau kamu katakan? Kamu sudah kalah.”

“Belum,” jawab si belalang. “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua?”

“Apa pun tantangan itu, aku siap,” tukas si anjing.

Belalang lalu berkata lagi, “Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan dinilai bukan berdasarkan seberapa tinggi dia melompat, tapi berdasarkan dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali dari tinggi tubuhnya.”

Anjing kembali yang mendapatkan kesempatan pertama. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.

“Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga,” kata si anjing.

“Tidak perlu,” jawab si belalang. “Karena, pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standar perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standar perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.” “Intinya adalah, kamu dan saya mempunyai potensi dan standar yang berbeda tentang kemenangan. Adalah tidak bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampaui standar dirimu sendiri.”

Cerita sederhana di atas pernah membuat saya malu pada diri sendiri. Saat masih berumur awal 30-an tahun, seringkali saya membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan antara profesi saya dengan profesi si A, antara pendapatan saya dan pendapatan si B, antara mobil saya dengan mobil si C, antara kesuksesan saya dengan kesuksesan si D, dan seterusnya. Hasilnya? Tak jarang muncul perasaan-perasaan negatif, seperti iri hati atau kecewa pada diri sendiri, hingga rasa syukur atas nikmat pun jadi teraniaya. Namun kala yang lain muncul juga semacam motivasi untuk bisa lebih maju dan berusaha lebih tekun agar bisa melampaui orang lain.

Belakangan, saya menemukan cara bersaing yang lebih cocok untuk diri sendiri. Saya mulai mengukur kemajuan saya tahun ini berdasarkan prestasi saya tahun lalu. Saya tetapkan bahwa tahun ini saya harus lebih sehat dari tahun lalu; pendapatan dan sumbangan tahun ini diupayakan lebih tinggi dari tahun lalu; pengetahuan yang disebarkan tahun ini ditingkatkan dari tahun lalu; relasi dan tali silahturahmi juga direntangkan lebih lebar; kualitas ibadah diperdalam; perbuatan baik dipersering; dan seterusnya. Dengan cara ini, saya ternyata lebih mampu mengatasi penyakit-penyakit seperti iri hati, dengki, dan rasa kecewa pada diri. Berlomba untuk memecahkan rekor pribadi yang baru, melampaui rekor yang tercapai di masa lalu, ternyata menimbulkan keasyikan dan rasa syukur yang membahagiakan

Sumber: Memecahkan Rekor oleh Andrias Harefa.